jump to navigation

Kisah Tentang Seorang Pengemis April 24, 2007

Posted by pengemistuhan in Cerita Rohani.
1 comment so far

Suatu ketika di sebuah gurun pasir yang sangat panas dan kering ada seorang pengemis yang protes atau ngomel-ngomel. Si pengemis berbicara dalam hatinya dan memohon belas kasihan dari Tuhan siang itu. Ia mengatakan bila Engkau Tuhan  Maha Pengasih mengapa engkau tidak memberiku sepasang sandal yang bisa aku gunakan di padang pasir yang panas dan kering ini. sambil berjalan si Pengemis ini mengumpat dan bertanya-tanya mengapa juga Tuhan tidak memberikan sepasanag sandal buatku.

Ketika dia berjalan di sepanjang gurun tersebut tiba-tiba dia melihat sesosok tubuh yang bergerak di atas pasir gurun yang panas itu. Setelah ia perhatikan dengan seksama tubuh tersebut betapa kagetnya dia, ternyata itu adalah seorang manusia yang tidak mempunyai kedua belah kaki dan tangan namun dengan tekad yang kuat dia ingin berjalan melewati gurun yang panas itu ke suatu tempat yang lebih teduh. Sambil berguling-guling (karena tidak mempunyai kaki dan tangan) orang tersebut melewati gurun itu dengan sabar sejengkal demi sejengkal.

Melihat kenyataan tersebut di depan matanya, kemudian si Pengemis dengan cepat bertekuk lutut  sambil menangis kehadapan Tuhan. Dengan air mata yang berlinang si pengemis memohon ampun atas omelan yang ia katakan tadi kepada Tuhan. Dengan sujudnya itu si pemgemis mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena setidaknya ia memiliki kedua tangan dan kaki yang lengkap untuk bisa berjalan tanpa harus berguling-guling seperti orang yang ia lihat.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bagaiamana kita harus selalu pasrah dan menerima apa yang Tuhan telah berikan kepada kita untuk kita jalani di kehidupan ini. Janganlah selalu melihat ke atas atau melihat orang yang mampu secara ekonomi lalu kita membandingkan kepada diri kita sendiri dengan menyatakan bahwa kita adalah orang yang miskin. Ketahuilah tiada seorangpun yang miskin di dunia ini, manusia adalah mahluk tertinggi atau puncak ciptaan dari seluruh ciptaan yang ada, dengan tubuh inilah kita bisa menghyati dan kembali kepada Tuhan. Tanpa tubuh manusia penghayatan akan Tuhan adalah mustahil.

Tuhan, ayah kita mengetahui apa yang terbaik buat diri kita janganlah kita meminta materi dan segala ciptaanya yang bisa menjerumuskan kita nantinya. Mintalah Tuhan sendiri untuk bersemayam di dalam diri kita sehingga seluruh ciptaan akan menjadi milik kita. Bila kita tidak tahu apa yang terbaik untuk diri kita bagaiamana mungkin kita bisa memohon dan mendoakan orang lain untuk suatu kedamaian, kesejahteraan, rezeki dll????

Vegetarisme April 8, 2007

Posted by pengemistuhan in Vegetarian.
2 comments

Kami adalah Kuburan Hidup dari Binatang-binatang yang mati terbunuh,
yang di sembelih guna memuaskan selera kami,
Kami tidak pernah berhenti untuk berpikir sejenak tentang pesta pora kami itu.

Apakah binatang – Seperti Manusia – juga mempunyai Hak-hak,
Kami berdoa setiap saat untuk memperoleh terang
Guna membimbing langkah langkah kama pada jalan yang kami lalui
Kami muak akan perang, kami tak mau bertempur
Sekarang saja, kenangannya telah memenuhi hati kami dengan ketakutan
Tetapi toh kami makan lahap-lahap yang mati….

Bagaikan burung Nazar kami hidup dan makan daging,
Tanpa peduli akan penderitaan dan kesakitan
Yang timbul sebagai akibat dari perbuatan kami itu
Jika seperti itu kami memperlakukan binatang-binatang yang tidak berdaya itu untuk bersenang-senang
Bagaiamana di dunia ini kami boleh berharap untuk memperoleh DAMAI
yang konon sangat di dambakan?
Kami berdoa untuk memperolehnya, di atas Kurban sembelihan,
Kepada TUHAN, sambil memperkosa hukum moral;
Karena itu kekejaman menghasilkan buahnya – PERANG

Rumah Makan Vegetarian Baru! April 5, 2007

Posted by pengemistuhan in Vegetarian.
add a comment

Ada kabar baru bagi anda yang menjalani pola hidup Vegetarian, telah di buka sebuah warung atau bahasa kerennya Rumah Makan vegetarian di wilayah Kerobokan dengan nama GreenHouse vegetarian. Konsep yang dituangkan sangat tepat bagi anda yang ber-vegetaris.

Uniknya dan gebrakan yang di lakukan oleh GreenHouse adalah pesan makana bisa lewat internet alias secara Online. Anda tinggal pilih menu, klik lalu team delivery akan membawa semua pesanan anda. Untuk pengiriman biaya Gratis dengan catatan anda harus memesan atau order minimal Rp. 20.000, jangkauan pengirimian seputar denpasar, seminyak, canggu, Dalung, Padang sambian dan sekitarnya.

Warna hijau sangat dominan dari ciri GreenHouse, mungkin sesuai dengan namanya kali ya….:) nah masakan handalanny adalah masakan vegetarian tradisional seperti Lawar dari lawar klungah (dari kelapa gading), lawar nangka atau lawar gedang (dari pepaya)

namun bila anda suka chinese food, jangan takut! GreenHouse juga menyediakan masakan tersebut. Jangan kaget, karena semua menu yang di sajikan tidak menggunakan istilah hewani lagi seperti layaknya rumah makan vegetarian lainnya di seputaran denpasar.

masakannya halal tanpa telur, terasi, bawang, dan penyedap yang berasal dari hewani. Ayo buruan datang ke sana, jangan terlambat! anda bisa buka website disini http://www.vegetarianhouse.info

Semoga bermanfaat,
Pengemis

Memuja Tuhan March 2, 2007

Posted by pengemistuhan in Memuja Tuhan.
add a comment

Pada umumnya orang memuja Tuhan seperti mereka memuja ular. Di dalam hati, mereka tidak mengasihi ular tersebut. Mereka memujanya karena mereka takut kepada ular itu dan karena ingin bebas dari gigitannya yang  beracun. Doa kita kepada Tuhan seharusnya tidak boleh lahir dari perasaan takut akan sesuatu. Sebagai contoh, kita mungkin takut bahwa usaha kita akan gagal, bahwa anak-anak kita akan menjadi jahat atau bahwa kita akan terkena aib atau tidak dihormati oelh masyarakat, itu bukan cara-cara untuk menyembah Dia, untuk berdoa kepadaNya.

Pemujaan kita seharusnya berlandaskan kasih, dan buka perasaan takut. Hati kita harus melimpah ruah dengan kasih akan Dia yang bersifat murni, tulus dan sungguh-sungguh. Kita harus dikaruniai dengan keninginan yang menyala-nyala untk bertemu dengan Dia. Pendek kata, kita harus menginginkan Dia karena kita tidak dapat hidup tanpa Dia; kita seharusnya tidak boleh minta barang duniawi apapun dari Dia.

EFEK MEDITASI March 2, 2007

Posted by pengemistuhan in Meditasi.
add a comment

Meditasi adalah suatu cara hidup. Anda tidak sekedar mengurung diri dalam sebuah ruangan untuk beberapa jam dan kemudian melupakan meditasi sepanjang hari, itu harus di terapkand an tercermin dalam perbuatan kita sehari-hari dan dalam seluruh kegiatan rutin anda. Pengamalan itu sendiri merupakan efek dari meditasi. Mengamalkan Ajaran dan hidup dalam suasana itu, itulah meditasi. Setiap saat anda menciptakan suasana untuk melakukan meditasi harian anda . segala sesuatu yang anda lakukan harus anda sadari sebagai persiapan bagi meditasi yang berikutnya. Dengan demikian meditasi menjadi suatu cara hidup, karena kita hidup dalam suasana yang kita ciptakan dalam meditasi.

Hidup dalam suasana meditasi berarti hidup sederhana, bahagia dan tenang. Efek dari ketenangan dan kesukacitaan meditasi akan memungkinkan anda untuk menyesuaikan diri terhadap pasang surut kehidupan dengan ketabahan dan keseimbangan. Anda dapat menghadapi karma anda yang baik maupun yang buruk dengan gembira sambil terus menyesuaiakan diri dengan polanya yang selalu berubah. Anda tidak dapat mengubah jalan hidup anda yang telah disuratka oleh nasib, namun dengan mematuhi Satguru dan melakukan meditasi, anda tetap bahagia dan santai sewaktu menjalaninya. Anda menerima segala sesuatu yang menghampiri anda sebagai karunia Satguru. Sekarang Ia menjadi Nahkoda bahtera kehidupan anda dan Ia hanya ingin menjadikan anda bahagia dan sejahtera. Oleh rahkmatNya, Ia membawa anda kepadaNya secepat mungkin untuk memberikan semua yang Ia miliki. Jadi, di dalam hati seorang siswa tidak ada tempat bagi kecemasan.

Melalui meditasi, kita menggenapi tujuan utama hidup manusia. Meditasi adalah satu-satunya pemujaan yang diperkenan oleh Bapa. Melalui memditasi, kita layak menerima karuniaNya dan dapat menanggapi kasihNya. Kita memupuk dan mengembangkan kasih dan kebaktian yang ia berikan agar kita cepat sampai di tempat tujuan. Jadi, melakukan meditasi berarti menyerahkan diri kepada kehendak Bapa; mematuhi Tuhan dan Satguru. Melalui meditasi, berkat karuniaNya, kita dapat memupuk kerinduan membara untuk pulang ke Sumber kita. Efeknya sungguh-sungguh menakjubkan! Kita akan memalingkan diri dari dunia, dan dengan semangat yang sama seperti kita pernah lari menuju dunia, kita sekrang lari menuju Bapa. Kita akan menghayati kesukacitaan dan kenikmatan kasih sejati dan kebaktian sejati karena kita akhirnya akan menjadi satu dengan Satguru kita sehingga kita berubah dari tetesan menjadi lautan Ilahi itu sendiri.

Tahapan Jalan Rohani March 1, 2007

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

Ada empat tahap di dalam perjalan rohani yang harus di tempuh dan di ikuti oleh setiap orang yang ingin mencari Kebenaran dan Pembebasan di dunia maya ini;

1. KARM KHAND atau ‘SHARIAT’ yaitu berbuat baik seperti yang dianjurkan di dalam kitab suci semua agama di dunia.

2. UPASANA atau ‘TARIQAT’ yaitu mengikuti perjalan Rohani di bawah pengawasan dan bimbingan seorang guru atau Satguru sempurna yang masih hidup. Mengendalikan pikiran dan indera, dan mengabdikan diri bagi meditasi dan latihan rohani.

3. BHAKTI atau MA’ARFAT, yaitu menjadi begitu jenuh dengan Kasih Tuhan sehingga tidak memperhatikan apa-apa lagi kecuali Dia. Semua ingatan tentang dunia dan keduniawian  hilang. Kelima nafsu ditaklukkan, pikiran serta indera terkendali. Semua keinginan akan kesenangan duniawi dan kenikmatan inderawi mati dan pudar.

4. GYAN atau ‘HAQIQAT’, yaitu menghayati kebenaran dan kenyataan, dan menjadi satu dengan Tuhan. Hidup baik memang penting sekali untuk mencapai penghayatan akan Tuhan, tetapi tu saja masih belum cukup. Bila seseorang terus menerus mencuci dan membersihkan piring mangkok sepanjang hari dan menatanya dengan indah sekali di atas meja, namun ia tidak menaruh apa-apa kedalamnya untuk dimakan, apakah laparnya akan hilang? Hidup yang melulu untuk memberikan pelayanan adalah seperti hanya membersihkan perabotnya. Itu memurnikan pikiran dan menjadikannya mampu untuk naik ke alam-alam yang lebih luhur. Tetapi menghilangkan kotoran pikiran bukanlah maksud dan tujuan utama dari hidup.

Mengapa pikiran harus dimurnikan? karena segala sesuatu yang kotor tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bila pikiran sudah menjadi murni, langkah-langkah selanjutnya masih tetap harus ditempuh untuk perjalanan naiknya. Ia harus mencari bimbingan dari Jiwa yang telah menghayati Tuhan.

Ketenangan March 1, 2007

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

APAKAH KITA BISA MENDAPATKAN KETENANGAN

Pernikahan merupakan peristiwa yang menyenangkan dan meriah dalam hidup, namum bila pasangan kita suka bertengkar, tidak ramah dan galak, maka ketegangan dan percekcokan yang timbul dapat benar-benar mengubah seisi rumah menjadi neraka. Begitupun juga, kedatangan seorang angota keluarga yang baru merupakan saat yang menggembirakan; pesta di adakan untuk menjamu teman dan sanak keluarga, dan sedekah dibagikan kepada yang miskin. Tetapi, seperti pengalaman sering kali menunjukkan, anak yang sama kemudian dapat menjadi sumber penderitaan bila ia jatuh sakit, bila ia menjadi seorang pemboros, bila ia di panggil pulang oleh Tuhan.

Kadang-kadang orang mencari ketenangan dan kebahagiaan dalam berbagai jabatan kewenangan dan kekuasaan. Bila sedang berada di puncak, para pemimpin politik mendapat sanjungan dan penghormatan. Pawai diadakan untuk menghormati mereka. Pujian bagi mereka disiarkan dalam surat kabar maupun dari atas mimbar, dan mereka merasa di awang-awang. Tetapi kita juga tahu apa yang terjadi bila mereka kehilangan kekuasaan. Pemimpin yang sama kemudian menghadapi cercaan dan hinaan dari rakyat yang sama. Sering kali mereka menjadi sasaran peluru atau dijebloskan ke dalam penjara. Nama mereka kemudian menjadi haram dan mereka direndahkan dan dihinakan dengan segala cara. Sehinga, tempat yang tadinya mmenjadi sumber kesenangan dan kebahagiaan bagi mereka, kemudian berubah menjadi neraka dan maut dan kehancuran.

Yang pasti, kebanyak orang mencari kebahagiaan dan kesenangan dengan jalan mengumpulkan harta. Mereka bekerja siang malam dan mengurbankan banyak prinsip dalam usaha yang tidak terpuji ini. Tetapi, mereka akan segera sadar bahwa kekayaan dan kebahagiaan tidak sinonim. Kesedihan yang tidak terperikan akan tersirat pada wajah mereka bila timbunan harta mereka mulai berkurang, karena uang mulai mengalir ke kantung para dokter untuk pengobatan berbagai macam penyakit, atau ke dalam dompet sang pengacara bila mereka terlibat dalam perkara pengadilan yang panjang yang menghabiskan banyak biaya, sehingga tubuh mereka merana.

Ada juga beberapa orang yang mencari kesenangan dengan jalan minum anggur, wiski, dan dengan jalan makan daging, ikan dan unggas. Itu memang dapat memuaskan selera mereka; itu kelihatannya enak dan lezat, tetapi hal tersebut seringkali mengakibatkan mereka harus masuk rumah sakit atau rumah perawatan, dan kadang –kadang mereka bahkam harus masukpenjara hingga mereka harus bekerja keras.

Pertanyaan tentu timbul mengapa ketenangan dan kebahagiaan dalam dunia ini begitu semu. Tuhan telah membuat susunan dunia ini dari jalinan suka dan duka. Dalam ‘lembah air mata ini’ dimana setiap mawar mempunyai duri, maka setiap kesenangan bercampur deangan penderitaan, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa ia hanya mengecap kebahagiaan yang murni, dan tidak ada seorangpun yang nasibnya hanya

Apa Yang Kita Inginkan? February 15, 2007

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

Kita menginginkan segala sesuatu di kehidupan ini. Kita ingin uang yang banyak untuk memuaskan segala kemewahan dan kenyamanan hidup. Kita ingin rumah yang besar dan indah, kita ingin mobil, kita ingin keluarga yang bahagia, pasangan hidup yang mengasihi dan patuh kepada kita, anak – anak yang berharga. Kita ingin kelihatan cantik, kulit yang mulus dan badan yang sehat. Kita ingin pintar dan rajin. Kita ingin mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak serta seorang Bos yang sabar dan mengerti akan diri kita. Kita ingin usaha kita tumbuh dan berkembang serta memiliki karyawan yang mempunyai dedikasi tinggi dan pekerja keras. Kita ingin menjaga keluarga, khususnya kedua orang tua karena kita mecintainya dan ingin agar mereka hidup dengan nyaman. Kita ingin agar anak – anak kita mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita ingin agar Satguru memperhatikan, bicara dan memperhatikan diri kita secara khusus. Kita ingin di cintai dan dikasihi. Kita ingin kedamaian dan kebahagiaan untuk diri kita sendiri dan juga untuk seluruh dunia. Semua keinginan kita tidak ada habisnya. Kita berpikir bahwa dengan memenuhi segala keinginan, kita akan mencapai kedamaian yaitu suatu kebahagiaan dan kesenangan untuk mana kita mencarinya terus menerus. Para suci dan mistik mengatakan kepada kita bahwa tiada seorangpun yang akan dapat memiliki kedamaian dan kesenangan di dunia maya ini dimana tidak ada kesengan bercampur dengan penderitaan.

Para Suci di setiap jaman telah mengatakan bahwa jiwa adalah sinar dari cahaya Tuhan, tetesan dari lautan kedamaian dan kebahagian yang maha luas dari mana ia telah di berangkatkan dalam kurun waktu yang begitu lama. Sejak berpisah, jiwa tidak mengetahui apa-apa tentang kesedihan dan penderitaan di dunia  maya ini. Tiada seorangpun yang benar – benar bahagia di dalam penjara lingkaran dari kelahiran dan kematian.

Jiwa, telah turun kedalam tubuh pisik ini, dan terikat erat dengan pikiran yang mencintai kesenangan indera yang akhirnya membuatnya benar-benar menjadi budak dari indera itu sendiri. Jiwa telah merosot dari keaslian dan kemurniannya, dimana begitu banyak kotoran yang mengelilinginya sehingga jiwa benar-benar melupakan keasliannya, dan sebagai hasilnya jiwa menderita dari kesengsaraan, khayalan dan kesusahan. Setiap orang mencari kebahagiaan, namun bila mencarinya di alam kesenangan dan benda-benda duniawi, itu justru akan membawa dan mendatangkan lebih banyak penderitaan. Orang tidak dapat menemukannya karena mereka tidak mencarinya di tempat dimana semestinya dapat di temukan. Para Suci memberi nasehat bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber dari kebahagian abadi. Tetesan mendapatkan kebahagiaan hanya bila berstu kembali dengan lautannya.

Ketika Jiwa memasuki bentuk manusia untuk pertama kalinya, jiwa menikmati dari luas dan ramainya dari dunia ini. Dunia dengan kesenangan inderawi ini begitu mempesonakan, dan ada begitu banyak hal yang dapat di lihat, dilakukan, dan di alami. Para suci mengatakan bahwa jiwa dapat turun dalam banyak kelahiran, menikamati kesenangan inderawi dengan sedikit atau tanpa memahami sesuatu yang lebih tinggi.

Kemelakatan – KeAkuan January 10, 2007

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

KEMELEKATAN.

Untuk memahami seberapa kuat kelemelakatan itu ada baiknya kita melihat dan membaca sebuah cerita berikut ini.
Anda semua tentu sudah pernah mendengar kisah tentang seorang pahlawan besar Persia yang bernama Rustam dan putranya Sohrab. Mereka adalah Bapak Anak, tetapi mereka tidak pernah bertemu muka sampai dimana suatu saat mereka harus berjuang mati-matian di arena pertempuran, masing-masing sebagai komandan dari dua pasukan yang saling bermusuhan. Rustam harus meninggalkan rumahnya beberapa saat setelah kelahiran Sorhab untuk melakukan misi penaklukan dunia yang direncanakan oleh Raja Persia, dan ia menjadi Komandan pasukannya. Ia meninggalkan sebuah jimat kepada istrinya, dengan pesan untuk mengikatkannya pada lengan  kanan anak itu agar ia dapat mengenali putranya bila ia bertemu. Sejak usia yang sangat muda, Sorhab telah menggabungkan diri pada pasukan kerajaan Yunani dan berkat kemapuan dan kekuatannya yang besar, maka dalam waktu yang singkat, ia telah dijadikan Komandan. Pada waktu itu, Komandan pasukan harus ikut berjuang seperti prajurit. Ketika ayah dan anak tersebut saling berhadapan, mereka tidak mengetahui akan hubungan darah mereka dan masing-masing bertempur mati-matian selama lima belas hari tanpa henti. Rustam, yang lebih tua membuat putranya tersandung serta jatuh ke tanah, Rustam menggunakan kesempatan baik tersebut, dan segera ia menikamkan goloknya ke dada Sohrab. Sohrab menjerit, “Orang malang! Berhati-hatilah terhadap balas dendam Rustam, ayahku. Untuk perbuatan keji ini, ia pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal kepadamu.”

“Rustam terhuyung huyung ketika ia mengenali jimat yang ada pada lengan Sohrab. Karena duka cita yang amat dalam, darah mengalir turun dari mukanya dan tubuhnya mengigil bagaikan batang-batang bamboo. Seakan bisu, ia mendekap Sohrab dan mencium dahinya. “Anakku? Anakku? Ya Tuhan! Mapakah yang telah kulakukan? Ampun, Ampun ya Tuhan! Teriaknya dengan duka cita yang amat dalam. Ratap tangisnya terdengar sampai jauh, sehingga kawan maupun lawan ikut menangis bersamanya. Luka yang diderita putranya sangat berbahaya. Secepat kilat ia menunggang kudanya menuju sang raja, satu-satunya orang yang mempunyai Tariaque (obat untuk luka-luka yang berat). Tetapi sang raja yang telah mendengar tentang keberanian dan keperkasaan Sohrab, menolak untuk memberikan obat tersebut kepada Rustam. Ia mengemis dengan penuh iba, menjatuhkan diri di kaki raja, mengajukan berbagai macam permohonan, doa serta janji dan berkata bahwa putranya akan lebih berhasil daripadanya dan bahwa ia akan menaklukan seluruh dunia bagi Persia. Tetapi tidak ada yang membuat sang raja meluluskan permintaannya. Sohrab sementara itu telah meninggal sebelum ayahnya kembali. Sewaktu Rustam melihat mayat anaknya, ia jatuh pingsan dan sejak itu, ingatannya tidak waras lagi.”

RENUNGAN:
Dalam cerita tersebut ada  dua orang yang bermaksud saling membunuh. Masing-masing menganggap yang lain sebagai musuhnya. Setelah membantai Sohrab secara biadad, Rustam menangis dan meratap karena sekarang ia melihat korban tersebut sebagai anaknya. Orang-orangnya tetap sama. Keadaan yang lain juga tidak berubah. Hanya perasaan ‘aku’ dan ‘kepunyaanku’ saya yang mulai timbul di hati. Sebelum perasaan ‘milikku’ tersebut timbul, Rustam tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang yang ingin di bunuhnya. Kita tidak mempunyai kawan maupun lawan. Hanya pikiran kitalah yang membuat kita berpikir demikian.

Amanat SANG SUCI December 10, 2006

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

Di antara semua orang suci yang telah datang ke dunia ini sejak zaman dahulu kala, tidak ada yang bermaksud untuk mendirikan agama maupun syahadat yang baru. Semuanya membawakan amanat yang sama. Mereka semua mengkotbahkan kebenaran yang sama dan menunjukkan jalan yang sama itu juga. Amanat, ajaran dan jalan mereka berlaku untuk semua zaman dan seluruh umat manusia. Karena terdorong oleh kepentingan pribadi, maka setelah mereka pergi, kitalah yang berusaha untuk menyempitkan ajaran mereka yang bersifat universal.
Para suci datang untuk menanamkan di dalam diri kita benih kasih akan Tuhan. Mereka datang untuk menyatukan kita dan bukan untuk mencerai-beraikan. Mereka datang untuk mengajar bagaimana kita harus membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka datang untuk melepaskan semua keterikatan kepada dunia yang fana ini. Mereka datang untuk membebaskan kita dari roda kelahiran dan kematian. Mereka datang untuk membawa jiwa  pulang  kembali kepada Tuhanya. Namun sayang, sejarah tentang usaha-usaha semacam itu menunjukkan bahwa ajaran tersebut kemudian menyimpang dan dilapisi oleh konsep pikiran yang rendah karena ketidak mampuannya untuk menangkap makna yang sebenarnya.

Di dalam dunia ini terdapat dua golongan manusia. Gurmukh dan Manmukh, yaitu mereka yang membaktikan diri kepada Satguru dan mereka yang tunduk dibawah perintah pikiran. Keduanya telah diciptakan oleh Tuhan yang sama. Sesuai dengan kehendakNya, ada yang menjadi Gurmukh, sedangkan yang lain hidup dalam kegelapan. Tuhan ada di mana-mana, namun demikian, Ia terpisah dari semuanya. Ia ada di dalam diri orang yang jahat maupun yang baik, yang durhaka maupun yang takwa. Ya, Ia ada di dalam setiap partikel, setiap daun dan setiap benih. Di dalam diri orang-orang tertentu, Ia dapat dilihat, sedangkan di dalam diri yang lain, Ia tersembunyi. Para Manmukh sama sekali melupakn Tuhan tetapi sangat mencintai pemberian-pemberianNya. Mereka hanya dapat bangun dari tidur yang nyenyak bila mereka bertemu dengan seorang suci dan menerima ajaranNya.

Para suci menerangkan bahwa jiwa merupakan tetesan dari lautan Ilahi. Karena terpisah dari sumbernya, ia telah terperangkap dalam jerat ilusi dan berteman dengan pikiran. Tetapi pikiran sendiri berada di dalam cengkraman panca indera dan menari-nari mengikuti iramanya. Apapun yang di lakukan oleh pikiran di bawah pengaruh panca indera, jiwa juga harus memikul akibatnya.Dunia ini merupakan medan yang luas dari aksi reaksi. Sebab dan akibat benar-benar terjalin menjadi satu. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Bila kita menanam cabai, kita tidak akan memetik apel; begitu juga, kita tidak dapat menanam semak berduri dan berharap untuk memetik bunga mawar. Dimanapun kita berinkarnasi di dunia ini, kita mengalami kesusahan dan penderitaan. Bentuk atau tubuh apapun yang kita miliki, kita tidak dapat menemukan ketenangan yang abadi. Lihatlah nasib kambing dan domba. Jutaan ekor disemblih setiap harinya untuk makanan kita. Tanpa kenal ampun, kita mengayunkan pisau ke leher mereka. Alangkah acuh tak acuhnya kita meskipun mereka menjerit secara mengibakan. Namun demikian, bila dokter menyiapkan jarumya untuk menyuntik kita, seluruh badan kita mulai bergetar. Bahkan manusia yang merupakan gambar dan rupa Tuhan juga tidak mengalami nasib yang lebih baik daripada binatang. Cangkir kesedihan mereka sama penuhnya. Kecemasan dan kekhawatiran menggerogoti hatinya. Penyakit dan penderitaan memainkan perannya sendiri. Pertentangan dan pertikaian menghancurkan ketenanganya.

Kebahagian sejati hanya dapat diperoleh bila kita pulang ke rumah sejati kita. Kita hanya dapat mengecap kebahagian sejati bila jiwa kita bergabung kembali dengan sumbernya. Di dunia ini, jiwa selalu merindukan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa kita senantiasa mencari-cari Tuhan. Kita mendambakan kebahagian yang sempurna, kebahagian yang murni, kebahagian yang kekal. Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang mendambakan kebahagian yang terbatas, kebahagian yang bercampur dengan penderitaan, kebahagian yang bersifat sementara. Tujuan akhir kita semua adalah Tuhan yang mahaesa itu juga. Ia adalah Tuhan umat Hindu, Sikh, Islam maupun Kristen. Umat Buddha, Jain, Zoroastrian, semuanya menyembah Dia. Orang yang hidup di jaman moderen mempunyai Tuhan yang sama dengan orang yang hidup di jaman purba. Ia adalah Tuhan yang Esa bagi seluruh alam semesta. Meskipun empat zaman selalu datang silih berganti. Tuhan yang Mahaesa itu tetap tak berubah dan kekal.“Pada awal mulanya Tuhan ada; dalam keempat zaman Tuhan ada; sekarang ada; dan untuk selamanya Tuhan yang sama akan tetap ada” kata Guru Nanak. Segala sesuatu yang kita lihat disekeliling kita mengalami perubahan. Hukum yang tak dapat digangu gugat tentang kelahiran, kematian dan pembusukan berlaku setiap saat. Bahkan kelahiran sendiri merencanakan kematian. Berbgai bangsa dan suku lahir, dewasa dan punah. Segala sesuatu mempunyai awal serta akhir. Hanya Dialah yang kekal dan abadi.