Kepuasan August 27, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Hanya orang yang puas sajalah yang dapat melayani orang lain dengan tekun. Ia mencamkan kebenaran, tidak mempunyai niat jahat, ia selalu melakukan perbuatan yang baik sehingga akan memperoleh pahala. Ia sangat sabar. Walaupun memiliki kehormatan, martabat dan wibawa, ia bersedia untuk mengampuni orang lain. I senang bila melihat orang lain memperoleh kemajuan dan kemuliaan dan ia beritikad baik. Walaupun dihormati dan disanjung-sanjung, ia mengasihi orang lain dan bersikap ramah tamah. Walaupun pandai dan bijaksana, ia menghormati para cendikiawan dan berusaha untuk menyerap sifat-sifat baik mereka sebagai tugas semata-mata. Ia rupawan, namun tidak mengumbar kesenangan inderawi. Ia senantiasa sabar, sederhana dan cermat. Orang seperti itu tidak saja puas, melainkan memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Ia merasa puas dengan istrinya dan menganggap orang yang lebih tua daripadanya sebagai ibu, yang lebih muda sebagai saudara atau anak. Ia hidup dari nafkah sendiri. Ia menikmati hidangan yang sederhana sebagai santapan yang mewah dan meneguk air seolah itu Amrita. Ia tidak iri hati bila melihat hidup orang lain makmur.
Bila seseorang itu miskin dan perbuatannya baik, dan Tuhan mengaruniainya dengan kepuasan, maka ia benar-benar kaya. Orang yang kaya namun tidak puas adalah seorang pengemis dan orang yang paling miskin, Karen akelaparannya tidak akan terpuaskan walaupun ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, karena tanpa kepuasan, tidak ada yang dapat di kenyangkan. Hal ini penting sekali, agar sambil berusaha, kita tidak menyalahkan atau lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, atau agar kita lambat laun tidak merasa putus asa bila hasilnya jauh dari yang kita harapkan atau sama sekali tidak ada, atau agar kita tidak menghentikan usaha kita dan menyerah kalah. Kita harus merasa puas dengan hasil perbuatan baik kita. Kita harus menunaikan tugas dengan penuh kesabaran.
Kepuasan August 26, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Hanya orang yang puas sajalah yang dapat melayani orang lain dengan tekun. Ia mencamkan kebenaran, tidak mempunyai niat jahat, ia selalu melakukan perbuatan yang baik sehingga akan memperoleh pahala. Ia sangat sabar. Walaupun memiliki kehormatan, martabat dan wibawa, ia bersedia untuk mengampuni orang lain. I senang bila melihat orang lain memperoleh kemajuan dan kemuliaan dan ia beritikad baik. Walaupun dihormati dan disanjung-sanjung, ia mengasihi orang lain dan bersikap ramah tamah. Walaupun pandai dan bijaksana, ia menghormati para cendikiawan dan berusaha untuk menyerap sifat-sifat baik mereka sebagai tugas semata-mata. Ia rupawan, namun tidak mengumbar kesenangan inderawi. Ia senantiasa sabar, sederhana dan cermat. Orang seperti itu tidak saja puas, melainkan memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Ia merasa puas dengan istrinya dan menganggap orang yang lebih tua daripadanya sebagai ibu, yang lebih muda sebagai saudara atau anak. Ia hidup dari nafkah sendiri. Ia menikmati hidangan yang sederhana sebagai santapan yang mewah dan meneguk air seolah itu Amrita. Ia tidak iri hati bila melihat hidup orang lain makmur.
Bila seseorang itu miskin dan perbuatannya baik, dan Tuhan mengaruniainya dengan kepuasan, maka ia benar-benar kaya. Orang yang kaya namun tidak puas adalah seorang pengemis dan orang yang paling miskin, Karen akelaparannya tidak akan terpuaskan walaupun ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, karena tanpa kepuasan, tidak ada yang dapat di kenyangkan. Hal ini penting sekali, agar sambil berusaha, kita tidak menyalahkan atau lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, atau agar kita lambat laun tidak merasa putus asa bila hasilnya jauh dari yang kita harapkan atau sama sekali tidak ada, atau agar kita tidak menghentikan usaha kita dan menyerah kalah. Kita harus merasa puas dengan hasil perbuatan baik kita. Kita harus menunaikan tugas dengan penuh kesabaran.
Kerendahan Hati August 25, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Agar layak menerima curahan karunia Tuhan, kita harus mengosongkan hati dari kesombongan, karena sebelum wadahnya kosong, ia tidak dapat menampung apa-apa. Bila kita rendah hati, Kal dan Maya tidak dapat mempengaruhi kita. Semua orang Suci memiliki sifat itu dan menyandangnya sebagai perhiasan. Apakah kesombongan palsu atau ketakaburan itu? Menyombongkan salah satu kebaikan yang bukan milik kita, atau yang kita miliki sebagai pemberian dari orang lain,itu adalah kesombongan palsu. Kita tidak patut dihormati atau dimuliakan karena kita dilahirkan dalam keluarga yang terhormat atau Karena nenek moyang kita berjiwa sosial.
Ada orang yang membanggakan pengetahuan dan bakatnya. Ia tidak patut merasa sombong. Itu adalah berkat guru yang mengajar dia dan kepandaian yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Apakah yang patut disombongkan oleh manusia di dunia ini? Orang menyombongkan harta dan benda. Itu bersifat sementara seperti bayangan yang berpindah-pindah tempat. Orang membanggakan usia mudanya yang dapat hilang oleh penyakit dan bertambahnya usia.
Dari pembahasan di atas jelaslah sudah bahwa kita tidak patut menyombongkan kesenangan duniawi. Mengingat tentang kemahamurahan Tuhan yang tak terhingga dan tumpukan dosa dan kesalahan kita, akan menjadikan kita pengemis-pengemis di pintu Tuhan. Karena itu kita harus menelaah apa saja yang telah Ia karuniakan kepada kita dan apa yang kita perbuat denganya. Selama kita percaya bahwa segala sesuatu yang kita miliki, yang baik maupun buruk, tidak kita peroleh sendiri melainkan datang dari Dia, maka tidak ada yang dapat kita sombongkan. Karunia apa saja yang tidak kita terima dari Tuhan? Setelah menerimanya, apakah yang kita lakukan sebagai ungkapan rasa terimakasih kita dan apakah kita menghargainya? Bila jalan pemikiran seperti itu masih dapat menjadikan sombong, maka obatnya yang mujarab adalah memikirkan tentang semua kesalahan dan dosa kita. Egoisme atau kesombongan tidak disukai oleh Tuhan. Ia mencurahkan karuniaNya kepada orang-orang yang pikiranya penuh dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan.
Kerendahan hati bukanlah suatu kelemahan, itu merupakan kekuatan yang sedemikan besarnya sehingga semua kekuatan dunia ini pasti akan tunduk kepadanya. Manusia dapat menaklukan dirinya sendiri dengan kerendahan hati. Tak seorangpun dapat mengalahkan orang yang tidak sombong; karena di balik kerendahan hatinya, kuasa gaib Tuhan bekerja. Kerendahan hati merupakan perhiasan yang disandang oleh jiwa-jiwa mulia.
Kejujuran August 15, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Apa itu Kejujuran? marilah kita sekarang membahas apakah ucapan yang jujur itu, yaitu kata-kata yang diucapkan oleh orang yang jujur. Menceritakan sesuatu tepat seperti yang dilihat atau didengar, itu disebut sebagai jujur. Selain kata-kata yang diucapkan harus jujur, tingkah laku juga harus jujur. Kejujuran harus kita junjung tinggi dan tindak tanduk kita harus berlandaskan kejujuran. Dengan demikian segenap jiwa, pikiran dan tindak tanduk kita akan menjadi jujur.
Dalam mengungkapkan kebenaran, kita tidak boleh mengabaikan rasa belas kasihan. Sesungguhnya, kejujuran tidak melukai perasaan orang lain. Apapun yang diucapkan, itu harus datang dari hati dan sama sekali tidak boleh menyakiti perasaan orang lain. Kejujuran dapat berdiri sendiri namun tidak demikian dengan halnya dengan ketidak jujuran. Orang yang jujur bersifat mantap, sabar dan berpendirian teguh. Orang yang tidak jujur tidak dapat berjalan dengan tegap dan ia tidak mantap. Orang yang jujur tak mengenal rasa takut dan tidak pernah bimbang atau ragu, sebaliknya orang yang tidak jujur selalu dibayangi ketakutan dan tidak mau bertemu pandang dengan orang lain. Orang yang jujur bersifat gagah berani, tetapi orang yang tidak jujur bersifat pengecut dan malas. Karena tidak mengenal takut, orang yang jujur bebas dari kecemasan, sehingga keterikatan berubah menjadi pelepasan. Orang yang jujur menjauhkan diri dari rayuan, bujukan, tipuan dan tidak menutup-nutupi sesuatu.
Dari keterangan di atas, jelaslah sudah bahwa orang yang jujur dapat berhasil dibidang kerohanian. Karena kebenaran berurat akar di dalam dirinya, maka ucapanya juga benar. Ia sendiri menelusuri jalan menuju Tuhan dan juga membimbing orang-orang lain. Orang yang jujur, puas dan mengucapkan kata-kata yang benar, akan menjadi kesayangan Tuhan. Ia tidak pernah merasakan kepedihan hati karena terpisah dari Dia. Tak ada yang ditakuti oleh kebenaran. Kebenaran tidak mempan terhadap kutukan dan Kal juga tidak dapat mencelakakannya. Bila bakta sejati bertemu dengan kebenaran (Tuhan), maka ia akan manjadi satu dengaNya.