jump to navigation

Kebajikan September 25, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Tuhan mempunyai banyak kebajikan. Jiwa yang meresapkan kebajikan itu di dalam dirinya, akan dapat menemukan Tuhan dan akan menjadi kesayangan Tuhan. Ia merupakan seorang  mempelai bahagia yang dikasihi Tuhan. Tuhan adalah gudang segala kebajikan. Kebajikan-kebajikan yang dapat dimiliki oleh jiwa sehingga ia akan dimuliakan di pintu Tuhan, dalam kitab Adi Granth dibagi menjadi empatbelas macam. Kita harus menelitinya dan mencamkannya di dalam hati.(1) Mengulang-ngulang nama Tuhan dan merasakan kehadiran Parbrahm (Tuhan Yang Mahaesa)
(2) Orang harus melepaskan keakuan dan memuji Tuhan dan mengasihi Dia
(3) Jangan melukai perasaan orang lain
(4) Jangan bersikap kasar melainkan gunakan budi bahasa yang manis
(5) Seganilah Tuhan
(6) Hiduplah sesuai dengan kehendakNya dan lepaskan semua yang lain
(7) Lepaskan keinginan dan kejahatan
(8) Lepaskanlah keakuan dan jangan mempergunjingkan kejelekan orang lain
(9) Berbuatlah baik kepada orang yang jahat sekalipun. Jangan membalas dendam. Bersikaplah rendah hati dan mawas diri
(10) Tinggalkan hawa nafsu, dendam, ketamakan, keterikatan dan pikiran jahat serta baktikan dirimu dengan rendah hati. Jangan menginginkan istri dan harta benda orang lain. Jangan memikirkan tentang hal-hal yang buruk atau memfitnah orang lain dan hiduplah dengan tenang
(11) Amalkan kebenaran, belas kasihan dan pengampunan
(12) Hilangkan keraguan, carilah Tuhan, kenalilah dirimu sendiri,anggaplah Tuhan sebagai mahaada dan mahatembus dan layanilah para suci
(13) Jadilah duli kaki semua orang, anggaplah semua sebagai teman, lihatlah Tuhan dalam diri setiap orang dan jangan menyakiti mahluk lain
(14) Akuilah maut sebagai suatu kenyataan dan tinggalkan keinginan akan masa mendatang. 

Kebaktian September 15, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Dalam diri setiap umat manusia, sifat untuk membaktikan diri merupakan naluri. Semua orang mempunyai kecenderungan alamiah untuk hidup bermasyarakat atau menikmati kesenangan dan kebahagian dengan orang lain, karena secara kodrati, manusai adalah mahluk social dan ia tidak merasa puas kecuali ia dapat menjadi satiu dengan obyek kasihnya. Sebelum itu tercapai, ia akan tetap tidak tenang dan pikiranya mengembara. Di dunia ini orang melakukan bermacam-macam kebaktian, sementara orang berbakti untuk mengumpulkan harta, yang lain senang untuk membaktikan diri kepada keluarga, yang lain lagi ingin dikagumi oleh masyarakat dan berusaha untuk menuntut ilmu dan menjadi seniman. Para pemuja harta, siang malam bekerja tak henti-hentinya dan bila mereka agak berhasil, ia akan mendorongya untuk mengumpulkan lebih banyak harta lagi. Bila kita dapat menabung uang seribu rupiah, kita kemudian tentu ingin menabung ratusan ribu rupiah lagi, sehingga kekeranjingan untuk mengumpulkan uang itu akan sepenuhnya menguasai diri kita. Karena keserakahannya, orang yang tamak tidak dapat membelanjakan uangnya secara bebas dan juga tidak dapat melepaskannya. Karena itu, ia terbakar oleh api ketamakannya sendiri. Bila seseorang membaktikan diri kepada harta, ia selalu takut kepada pencuri dan selalu memikirkan apakah ia harus menyimpan uang di bank atau di lemari besi. Kecemasan itu menjadi bagian dari kehidupannya. Ia juga takut bahwa hartanya akan di rampas oleh para penguasa, sehingga semua ketenangan pikiran akan dihancurkan oleh kecemasan yang selalu menggoda. Orang yang tamak itu sangat egois, karena ia tak dapat memanfaatkan hartanya untuk dirinya sendiri dan tidak bersedia untuk menyumbangkannya kepada fakir miskin atau orang lain. Jadi, jelaslah sudah bahwa kita tidak patut membaktikan diri kepada harta. Kita tidak dilahirkan untuk mengumpulkan harta, karena harta hanya ibarat bayangan yang dapat memanjang dan memendek setiap saat, dan bila harta habis, itu akan menyebabkan goncangan mental. Sebenarnya, harta dimaksudkan untuk melayani manusia dan manusia tidak dilahirkan untuk menjadi budaknya. Sanak kita, keluarga kita dan orang-orang di sekeliling kita, semuanya menjadi mangsa maut. Tiada seorangpun yang bebas dari maut, dan setiap orang menempuh jalanya masing-masing. Bila mereka mengalami maut dan perpisahan, mengapa kita harus mengingakatkan diri kepada mereka? Mereka semua mempunyai perangai yang berbeda-beda sehingga tentu saja pendapatnya juga berbeda. Karena itu, membaktikan diri kepada mereka tidak akan bersifat langgeng atau tetap sama. Orang yang asik membaktikan diri kepada keluarga, sering kali menimbulkan permusuhan dengan orang lain. Orang-orang yang membaktikan diri kepada negara juga bertengkar satu sama lain atau dengan negara lain. Api peperangan dan permusuhan di dunia ini semuanya disebabkan oleh sifat senang bertengkar dari orang-orang seperti itu. Demikian juga, orang yang membanggakan pencapain intelektualnya biasanya senang berdebat dan bersliat lidah, hal mana semakin menjauhkan mereka dari kebenaran. Orang seperti itu selalu ingin menyerang orang lain dari segi ilmiah. Kesombongan karena mngetauhui banyak hal menjadikan mereka besar kepala dan itu memabukkan, sehingga mereka melupakan prinsip yang seharusnya di junjung tinggi. Saudara kemudian bermusuhan dengan saudara, dan dengan pertolongan sains, teknologi dan ilmu, berbagai senjata pemusnah diciptakan. Ilmu pengetahuan seperti itu terus berkembang dan merupakan penyebab dari pertikaian dan penderitaan. Semuanya itu, harta, keluarga, kepandaian dan sebagainya dapat mendatangkan manfaat dan kebahagian bila dipergunakan secara tepat; tetapi karena hal itu tidak mungkin,maka kita tidak patut membaktikan diri kepadanya. Semuanya itu tidak kekal dan tidak sempurna. Diantara semua corak pemujaan, yang paling luhur adalah pemujaan yang dipersemabahkan kepada Tuhan (Sat Purusha) yang Mahaesa, yang Tak Berubah dan Tak Termusnahkan. Ia adalah sang Maha Pencipta, dan kita semua adalah anak-anaknNya. Dengan mengasihi Tuhan, kita juga dapat mengasihi semua ciptaanNYa, karena kita semua merupakan sudara-saudara Tuhan dan Tuhan adalah Bapa kita semua. Dari kasih seperti itu terpancarlah satu persaudaraan antar umat manusia dan satu Ketuhanan Ynag Mahaesa. Anda tidak dapat melihat wajah anda di atas permukaan kaca biasa, tetapi bila kaca itu secar kimiawi dibuat menjadi cermin, anda dapat melihat wajah anda di dalamnya. Dengan cara yang sama, bila hati yang murni diisi kasih dan kebaktian, maka hati itu dapat melihat bayangan Tuhan di dalam dirinya. Kita harus membaktikan diri kepada sesuatu yang mulia, indah dan sempurna, sesuatu yang mempunyai daya tarik magnetis yang kuat, yang dapat menarik pikiran orang lain kepadanya dan yang dapat mengisi pikiran dengan kebahagiaan dan ketentraman yang khas.