jump to navigation

Manusia adalah Puncak Ciptaan October 16, 2006

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

Tubuh Manusia Adalah Untuk Menghayati Tuhan

Para suci mengajak kita untuk mengamati keadaan yang melanda dunia. Mereka menunjukkan kepada kita bagaimana manusia, karena melupakan Tuhan, tenggelam dalam berbagai aktivitas. Mereka melupakan eksistensi Tuhan. Mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan Dia. Mereka sama sekali tenggelam dalam kenikmatan inderawi.

Pepatah mereka berbunyi: “Makan, minum dan bersukarialah” Anggapan bahwa “Dunia ini menyenangkan; siapakah yang tahu menahu tentang dunia yang akan datang? Tetap menjauhkan mereka dari kenyataan. Mereka lupa bahwa ada sesuatu yang disebut MAUT. Mereka mengabaikan fakta bahwa orang yang lahir harus mati. Mereka menyaksikan bagaimana semua handai tolan satu per satu pergi dan tidak kembali. Mereka bahkan mengikuti upacara pembakaran dan pemakaman kaum kerabatnya, tetapi mereka beranggapan bahwa maut hanya berlaku bagi orang lain sedangkan bagi dirinya sendiri tidak. Mereka tidak pernah mempertimbangkan bahwa harinya akan segera tiba dimana mereka juga akan mengalami nasib yang sama yang tak dapat dihindarkan itu.

Dalil bahwa barangsiapa hidup enak harus mati merana, sama sekali tidak mereka kenal. Semua orang suci memperingatkan kita bahwa maut sedang menunggu –nunggu setiap orang, tidak ada seorangpun yang dapat meloloskan diri daripadanya. Setiap orang harus mati dan meghadap kepada Hakim Ilahi. Sebelum ia bebas dari tubuh yang satu, tubuh yang lain sudah siap mengurung jiwanya. Bagaikan seorang narapidana, tangannya selalu terbelenggu. Dunia ini merupakan gunung, dan semua perbuatan kita memantulkan gemanya kepada kita. Seandainya manusia mengetahui keadaanya yang sesungguhnya, ia pasti akan merasa cemas. Ia pasti akan meratapi nasibnya dan berusaha untuk memperbaikinya.

Hidup manusia telah dikaruniakan kepada kita bukan untuk menikmati kesenangan inderawi, melainkan untuk menghayati Tuhan dan menyatukan jiwa dengan-Nya. Karena itu, hidup manuisa harus dimanfaatkan untuk menyembah Tuhan. Kita telah terpisah dari Dia sejak lama sekali. Keempat zaman telah berputar mengelilingi porosnya untuk kesekian kalinya, namun kita masih merupakan mahluk duniawai yang mengalami susah dan sedih, sakit dan derita, siksaan dan kecemasan.

Jiwa kita merupakan setetes dari lautan Tuhan. Tetapi pikiran mengombang-ambingkannya dan ia harus menderita akibat dari semua perbuatan yang dilakukannya dalam keadaan itu. Orang kaya dan miskin, raja dan pengemis, pria dan wanita, semua sibuk menyelesaikan hutang piutang perbuatan mereka. Dimanapun seseorang dilahirkan, ia sedikit banyak mengalami penderitaan. Para Suci menyamakan dunia ini dengan samudera yang pantainya tidak kelihatan, yang dalamnya tak dapat di duga dan yang penuh dengan arus dan pusaran dan dimana amukan badainya yang dasyat selalu menghempaskan ombaknya.

Di dalam lautan (dunia) yang begitu berbahaya itu, kita berlayar kesana kemari dengan perahu yang rapuh dan bocor, tanpa layar, dayung maupun kemudi, dan akibat dari keadaan seperti itu sudah dapat kita bayangkan. Kita akan tertelan oleh ombak dan tenggelam di kedalaman air yang maha luas itu. Lautan itu mempunyai pola kehidupan yang jauh lebih rumit. Ia mencakup 8.400.000 jenis mahluk hidup. Namun demikian kita tidak pernah berusaha untuk mencari seorang Nahkoda yang dapat membawa kita ke seberang.

Kita terikat kepada keinginan dan perintah pikiran kita. Kita telah berteman dengan musuh yang begitu licik itu sehingga akibat-nya hanyalah penderitaan semata-mata. Pikirkan sejenak nasib binatang yang kita sembelih dalam jumlah jutaan untuk kita makan. Namun jarum suntik seorang Dokter sudah dapat menjadikan kita takut, membuat kita gemetar bila melihatnya. Tidak pernah terpikir oleh kita bahwa bila kita harus lahir sebagai burung atau hewan lain oleh sebab karma, maka kita tentu tidak akan rela untuk di penggal.

Jangankan mahluk yang rendah, manusia sendiri yang menjadi anak emas alam semesta, puncak ciptaan – manusia yang di ciptakan serupa dengan Tuhan – tidak bernasib lebih baik. Cangkir kesedihannya hampir selalu meluap. Bila ia mempunyai banyak anak, ia mungkin menderita karenanya. Bila ia tidak mempunyai anak, ia mengidam-idamkannya. Kekayaan dan kemelaratan, keduanya seringkali membawa siksaan dan derita. Kehormatan dan sanjungan seringkali berakhir dengan debu dan keaiban. Bila kita amati dengan seksama, dunia tempat manusia hidup benar-benar memperihantinkan; tak terhitung banyaknya janda dan anak yatim piatu yang ada, banjir dan kelaparan menjadikan banyak orang menderita; penyakit dan kekacauan senantiasa mengganggu umat manusia. Suka dan duka tak dapat dipisahkan dari pola kehidupan manusia. Hidup manuisa bernafaskan keserba-duaan. Suka diganti oleh duka, sehat oleh sakit, kehormatan oleh aib. Selama mahluk yang fana itu tidak membebaskan diri dari dunia, ia sama sekali tidak mempunyai peluang untuk menghayati kebahagiaan yang kekal.

Jiwa terkubur di dalam tubuh, dan selama ia masih belum bangun dan bangkit, ia tetap harus menerima apa yang diberikan oleh tubuh yang sesungguhnya merupakan makam baginya; yaitu kesenangan untuk sesaat dan penderitaan yang tidak ada habisnya. Matanya tertutup; ia melihat umpanya tetapi tidak melihat jeratnya yang mengerikan.