Amanat SANG SUCI December 10, 2006
Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.add a comment
Di antara semua orang suci yang telah datang ke dunia ini sejak zaman dahulu kala, tidak ada yang bermaksud untuk mendirikan agama maupun syahadat yang baru. Semuanya membawakan amanat yang sama. Mereka semua mengkotbahkan kebenaran yang sama dan menunjukkan jalan yang sama itu juga. Amanat, ajaran dan jalan mereka berlaku untuk semua zaman dan seluruh umat manusia. Karena terdorong oleh kepentingan pribadi, maka setelah mereka pergi, kitalah yang berusaha untuk menyempitkan ajaran mereka yang bersifat universal.
Para suci datang untuk menanamkan di dalam diri kita benih kasih akan Tuhan. Mereka datang untuk menyatukan kita dan bukan untuk mencerai-beraikan. Mereka datang untuk mengajar bagaimana kita harus membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka datang untuk melepaskan semua keterikatan kepada dunia yang fana ini. Mereka datang untuk membebaskan kita dari roda kelahiran dan kematian. Mereka datang untuk membawa jiwa pulang kembali kepada Tuhanya. Namun sayang, sejarah tentang usaha-usaha semacam itu menunjukkan bahwa ajaran tersebut kemudian menyimpang dan dilapisi oleh konsep pikiran yang rendah karena ketidak mampuannya untuk menangkap makna yang sebenarnya.
Di dalam dunia ini terdapat dua golongan manusia. Gurmukh dan Manmukh, yaitu mereka yang membaktikan diri kepada Satguru dan mereka yang tunduk dibawah perintah pikiran. Keduanya telah diciptakan oleh Tuhan yang sama. Sesuai dengan kehendakNya, ada yang menjadi Gurmukh, sedangkan yang lain hidup dalam kegelapan. Tuhan ada di mana-mana, namun demikian, Ia terpisah dari semuanya. Ia ada di dalam diri orang yang jahat maupun yang baik, yang durhaka maupun yang takwa. Ya, Ia ada di dalam setiap partikel, setiap daun dan setiap benih. Di dalam diri orang-orang tertentu, Ia dapat dilihat, sedangkan di dalam diri yang lain, Ia tersembunyi. Para Manmukh sama sekali melupakn Tuhan tetapi sangat mencintai pemberian-pemberianNya. Mereka hanya dapat bangun dari tidur yang nyenyak bila mereka bertemu dengan seorang suci dan menerima ajaranNya.
Para suci menerangkan bahwa jiwa merupakan tetesan dari lautan Ilahi. Karena terpisah dari sumbernya, ia telah terperangkap dalam jerat ilusi dan berteman dengan pikiran. Tetapi pikiran sendiri berada di dalam cengkraman panca indera dan menari-nari mengikuti iramanya. Apapun yang di lakukan oleh pikiran di bawah pengaruh panca indera, jiwa juga harus memikul akibatnya.Dunia ini merupakan medan yang luas dari aksi reaksi. Sebab dan akibat benar-benar terjalin menjadi satu. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Bila kita menanam cabai, kita tidak akan memetik apel; begitu juga, kita tidak dapat menanam semak berduri dan berharap untuk memetik bunga mawar. Dimanapun kita berinkarnasi di dunia ini, kita mengalami kesusahan dan penderitaan. Bentuk atau tubuh apapun yang kita miliki, kita tidak dapat menemukan ketenangan yang abadi. Lihatlah nasib kambing dan domba. Jutaan ekor disemblih setiap harinya untuk makanan kita. Tanpa kenal ampun, kita mengayunkan pisau ke leher mereka. Alangkah acuh tak acuhnya kita meskipun mereka menjerit secara mengibakan. Namun demikian, bila dokter menyiapkan jarumya untuk menyuntik kita, seluruh badan kita mulai bergetar. Bahkan manusia yang merupakan gambar dan rupa Tuhan juga tidak mengalami nasib yang lebih baik daripada binatang. Cangkir kesedihan mereka sama penuhnya. Kecemasan dan kekhawatiran menggerogoti hatinya. Penyakit dan penderitaan memainkan perannya sendiri. Pertentangan dan pertikaian menghancurkan ketenanganya.
Kebahagian sejati hanya dapat diperoleh bila kita pulang ke rumah sejati kita. Kita hanya dapat mengecap kebahagian sejati bila jiwa kita bergabung kembali dengan sumbernya. Di dunia ini, jiwa selalu merindukan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa kita senantiasa mencari-cari Tuhan. Kita mendambakan kebahagian yang sempurna, kebahagian yang murni, kebahagian yang kekal. Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang mendambakan kebahagian yang terbatas, kebahagian yang bercampur dengan penderitaan, kebahagian yang bersifat sementara. Tujuan akhir kita semua adalah Tuhan yang mahaesa itu juga. Ia adalah Tuhan umat Hindu, Sikh, Islam maupun Kristen. Umat Buddha, Jain, Zoroastrian, semuanya menyembah Dia. Orang yang hidup di jaman moderen mempunyai Tuhan yang sama dengan orang yang hidup di jaman purba. Ia adalah Tuhan yang Esa bagi seluruh alam semesta. Meskipun empat zaman selalu datang silih berganti. Tuhan yang Mahaesa itu tetap tak berubah dan kekal.“Pada awal mulanya Tuhan ada; dalam keempat zaman Tuhan ada; sekarang ada; dan untuk selamanya Tuhan yang sama akan tetap ada” kata Guru Nanak. Segala sesuatu yang kita lihat disekeliling kita mengalami perubahan. Hukum yang tak dapat digangu gugat tentang kelahiran, kematian dan pembusukan berlaku setiap saat. Bahkan kelahiran sendiri merencanakan kematian. Berbgai bangsa dan suku lahir, dewasa dan punah. Segala sesuatu mempunyai awal serta akhir. Hanya Dialah yang kekal dan abadi.