jump to navigation

Memuja Tuhan March 2, 2007

Posted by pengemistuhan in Memuja Tuhan.
add a comment

Pada umumnya orang memuja Tuhan seperti mereka memuja ular. Di dalam hati, mereka tidak mengasihi ular tersebut. Mereka memujanya karena mereka takut kepada ular itu dan karena ingin bebas dari gigitannya yang  beracun. Doa kita kepada Tuhan seharusnya tidak boleh lahir dari perasaan takut akan sesuatu. Sebagai contoh, kita mungkin takut bahwa usaha kita akan gagal, bahwa anak-anak kita akan menjadi jahat atau bahwa kita akan terkena aib atau tidak dihormati oelh masyarakat, itu bukan cara-cara untuk menyembah Dia, untuk berdoa kepadaNya.

Pemujaan kita seharusnya berlandaskan kasih, dan buka perasaan takut. Hati kita harus melimpah ruah dengan kasih akan Dia yang bersifat murni, tulus dan sungguh-sungguh. Kita harus dikaruniai dengan keninginan yang menyala-nyala untk bertemu dengan Dia. Pendek kata, kita harus menginginkan Dia karena kita tidak dapat hidup tanpa Dia; kita seharusnya tidak boleh minta barang duniawi apapun dari Dia.

EFEK MEDITASI March 2, 2007

Posted by pengemistuhan in Meditasi.
add a comment

Meditasi adalah suatu cara hidup. Anda tidak sekedar mengurung diri dalam sebuah ruangan untuk beberapa jam dan kemudian melupakan meditasi sepanjang hari, itu harus di terapkand an tercermin dalam perbuatan kita sehari-hari dan dalam seluruh kegiatan rutin anda. Pengamalan itu sendiri merupakan efek dari meditasi. Mengamalkan Ajaran dan hidup dalam suasana itu, itulah meditasi. Setiap saat anda menciptakan suasana untuk melakukan meditasi harian anda . segala sesuatu yang anda lakukan harus anda sadari sebagai persiapan bagi meditasi yang berikutnya. Dengan demikian meditasi menjadi suatu cara hidup, karena kita hidup dalam suasana yang kita ciptakan dalam meditasi.

Hidup dalam suasana meditasi berarti hidup sederhana, bahagia dan tenang. Efek dari ketenangan dan kesukacitaan meditasi akan memungkinkan anda untuk menyesuaikan diri terhadap pasang surut kehidupan dengan ketabahan dan keseimbangan. Anda dapat menghadapi karma anda yang baik maupun yang buruk dengan gembira sambil terus menyesuaiakan diri dengan polanya yang selalu berubah. Anda tidak dapat mengubah jalan hidup anda yang telah disuratka oleh nasib, namun dengan mematuhi Satguru dan melakukan meditasi, anda tetap bahagia dan santai sewaktu menjalaninya. Anda menerima segala sesuatu yang menghampiri anda sebagai karunia Satguru. Sekarang Ia menjadi Nahkoda bahtera kehidupan anda dan Ia hanya ingin menjadikan anda bahagia dan sejahtera. Oleh rahkmatNya, Ia membawa anda kepadaNya secepat mungkin untuk memberikan semua yang Ia miliki. Jadi, di dalam hati seorang siswa tidak ada tempat bagi kecemasan.

Melalui meditasi, kita menggenapi tujuan utama hidup manusia. Meditasi adalah satu-satunya pemujaan yang diperkenan oleh Bapa. Melalui memditasi, kita layak menerima karuniaNya dan dapat menanggapi kasihNya. Kita memupuk dan mengembangkan kasih dan kebaktian yang ia berikan agar kita cepat sampai di tempat tujuan. Jadi, melakukan meditasi berarti menyerahkan diri kepada kehendak Bapa; mematuhi Tuhan dan Satguru. Melalui meditasi, berkat karuniaNya, kita dapat memupuk kerinduan membara untuk pulang ke Sumber kita. Efeknya sungguh-sungguh menakjubkan! Kita akan memalingkan diri dari dunia, dan dengan semangat yang sama seperti kita pernah lari menuju dunia, kita sekrang lari menuju Bapa. Kita akan menghayati kesukacitaan dan kenikmatan kasih sejati dan kebaktian sejati karena kita akhirnya akan menjadi satu dengan Satguru kita sehingga kita berubah dari tetesan menjadi lautan Ilahi itu sendiri.

Tahapan Jalan Rohani March 1, 2007

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

Ada empat tahap di dalam perjalan rohani yang harus di tempuh dan di ikuti oleh setiap orang yang ingin mencari Kebenaran dan Pembebasan di dunia maya ini;

1. KARM KHAND atau ‘SHARIAT’ yaitu berbuat baik seperti yang dianjurkan di dalam kitab suci semua agama di dunia.

2. UPASANA atau ‘TARIQAT’ yaitu mengikuti perjalan Rohani di bawah pengawasan dan bimbingan seorang guru atau Satguru sempurna yang masih hidup. Mengendalikan pikiran dan indera, dan mengabdikan diri bagi meditasi dan latihan rohani.

3. BHAKTI atau MA’ARFAT, yaitu menjadi begitu jenuh dengan Kasih Tuhan sehingga tidak memperhatikan apa-apa lagi kecuali Dia. Semua ingatan tentang dunia dan keduniawian  hilang. Kelima nafsu ditaklukkan, pikiran serta indera terkendali. Semua keinginan akan kesenangan duniawi dan kenikmatan inderawi mati dan pudar.

4. GYAN atau ‘HAQIQAT’, yaitu menghayati kebenaran dan kenyataan, dan menjadi satu dengan Tuhan. Hidup baik memang penting sekali untuk mencapai penghayatan akan Tuhan, tetapi tu saja masih belum cukup. Bila seseorang terus menerus mencuci dan membersihkan piring mangkok sepanjang hari dan menatanya dengan indah sekali di atas meja, namun ia tidak menaruh apa-apa kedalamnya untuk dimakan, apakah laparnya akan hilang? Hidup yang melulu untuk memberikan pelayanan adalah seperti hanya membersihkan perabotnya. Itu memurnikan pikiran dan menjadikannya mampu untuk naik ke alam-alam yang lebih luhur. Tetapi menghilangkan kotoran pikiran bukanlah maksud dan tujuan utama dari hidup.

Mengapa pikiran harus dimurnikan? karena segala sesuatu yang kotor tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bila pikiran sudah menjadi murni, langkah-langkah selanjutnya masih tetap harus ditempuh untuk perjalanan naiknya. Ia harus mencari bimbingan dari Jiwa yang telah menghayati Tuhan.

Ketenangan March 1, 2007

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

APAKAH KITA BISA MENDAPATKAN KETENANGAN

Pernikahan merupakan peristiwa yang menyenangkan dan meriah dalam hidup, namum bila pasangan kita suka bertengkar, tidak ramah dan galak, maka ketegangan dan percekcokan yang timbul dapat benar-benar mengubah seisi rumah menjadi neraka. Begitupun juga, kedatangan seorang angota keluarga yang baru merupakan saat yang menggembirakan; pesta di adakan untuk menjamu teman dan sanak keluarga, dan sedekah dibagikan kepada yang miskin. Tetapi, seperti pengalaman sering kali menunjukkan, anak yang sama kemudian dapat menjadi sumber penderitaan bila ia jatuh sakit, bila ia menjadi seorang pemboros, bila ia di panggil pulang oleh Tuhan.

Kadang-kadang orang mencari ketenangan dan kebahagiaan dalam berbagai jabatan kewenangan dan kekuasaan. Bila sedang berada di puncak, para pemimpin politik mendapat sanjungan dan penghormatan. Pawai diadakan untuk menghormati mereka. Pujian bagi mereka disiarkan dalam surat kabar maupun dari atas mimbar, dan mereka merasa di awang-awang. Tetapi kita juga tahu apa yang terjadi bila mereka kehilangan kekuasaan. Pemimpin yang sama kemudian menghadapi cercaan dan hinaan dari rakyat yang sama. Sering kali mereka menjadi sasaran peluru atau dijebloskan ke dalam penjara. Nama mereka kemudian menjadi haram dan mereka direndahkan dan dihinakan dengan segala cara. Sehinga, tempat yang tadinya mmenjadi sumber kesenangan dan kebahagiaan bagi mereka, kemudian berubah menjadi neraka dan maut dan kehancuran.

Yang pasti, kebanyak orang mencari kebahagiaan dan kesenangan dengan jalan mengumpulkan harta. Mereka bekerja siang malam dan mengurbankan banyak prinsip dalam usaha yang tidak terpuji ini. Tetapi, mereka akan segera sadar bahwa kekayaan dan kebahagiaan tidak sinonim. Kesedihan yang tidak terperikan akan tersirat pada wajah mereka bila timbunan harta mereka mulai berkurang, karena uang mulai mengalir ke kantung para dokter untuk pengobatan berbagai macam penyakit, atau ke dalam dompet sang pengacara bila mereka terlibat dalam perkara pengadilan yang panjang yang menghabiskan banyak biaya, sehingga tubuh mereka merana.

Ada juga beberapa orang yang mencari kesenangan dengan jalan minum anggur, wiski, dan dengan jalan makan daging, ikan dan unggas. Itu memang dapat memuaskan selera mereka; itu kelihatannya enak dan lezat, tetapi hal tersebut seringkali mengakibatkan mereka harus masuk rumah sakit atau rumah perawatan, dan kadang –kadang mereka bahkam harus masukpenjara hingga mereka harus bekerja keras.

Pertanyaan tentu timbul mengapa ketenangan dan kebahagiaan dalam dunia ini begitu semu. Tuhan telah membuat susunan dunia ini dari jalinan suka dan duka. Dalam ‘lembah air mata ini’ dimana setiap mawar mempunyai duri, maka setiap kesenangan bercampur deangan penderitaan, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa ia hanya mengecap kebahagiaan yang murni, dan tidak ada seorangpun yang nasibnya hanya