Tahapan Jalan Rohani March 1, 2007
Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.add a comment
Ada empat tahap di dalam perjalan rohani yang harus di tempuh dan di ikuti oleh setiap orang yang ingin mencari Kebenaran dan Pembebasan di dunia maya ini;
1. KARM KHAND atau ‘SHARIAT’ yaitu berbuat baik seperti yang dianjurkan di dalam kitab suci semua agama di dunia.
2. UPASANA atau ‘TARIQAT’ yaitu mengikuti perjalan Rohani di bawah pengawasan dan bimbingan seorang guru atau Satguru sempurna yang masih hidup. Mengendalikan pikiran dan indera, dan mengabdikan diri bagi meditasi dan latihan rohani.
3. BHAKTI atau MA’ARFAT, yaitu menjadi begitu jenuh dengan Kasih Tuhan sehingga tidak memperhatikan apa-apa lagi kecuali Dia. Semua ingatan tentang dunia dan keduniawian hilang. Kelima nafsu ditaklukkan, pikiran serta indera terkendali. Semua keinginan akan kesenangan duniawi dan kenikmatan inderawi mati dan pudar.
4. GYAN atau ‘HAQIQAT’, yaitu menghayati kebenaran dan kenyataan, dan menjadi satu dengan Tuhan. Hidup baik memang penting sekali untuk mencapai penghayatan akan Tuhan, tetapi tu saja masih belum cukup. Bila seseorang terus menerus mencuci dan membersihkan piring mangkok sepanjang hari dan menatanya dengan indah sekali di atas meja, namun ia tidak menaruh apa-apa kedalamnya untuk dimakan, apakah laparnya akan hilang? Hidup yang melulu untuk memberikan pelayanan adalah seperti hanya membersihkan perabotnya. Itu memurnikan pikiran dan menjadikannya mampu untuk naik ke alam-alam yang lebih luhur. Tetapi menghilangkan kotoran pikiran bukanlah maksud dan tujuan utama dari hidup.
Mengapa pikiran harus dimurnikan? karena segala sesuatu yang kotor tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bila pikiran sudah menjadi murni, langkah-langkah selanjutnya masih tetap harus ditempuh untuk perjalanan naiknya. Ia harus mencari bimbingan dari Jiwa yang telah menghayati Tuhan.
Ketenangan March 1, 2007
Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.add a comment
APAKAH KITA BISA MENDAPATKAN KETENANGAN
Pernikahan merupakan peristiwa yang menyenangkan dan meriah dalam hidup, namum bila pasangan kita suka bertengkar, tidak ramah dan galak, maka ketegangan dan percekcokan yang timbul dapat benar-benar mengubah seisi rumah menjadi neraka. Begitupun juga, kedatangan seorang angota keluarga yang baru merupakan saat yang menggembirakan; pesta di adakan untuk menjamu teman dan sanak keluarga, dan sedekah dibagikan kepada yang miskin. Tetapi, seperti pengalaman sering kali menunjukkan, anak yang sama kemudian dapat menjadi sumber penderitaan bila ia jatuh sakit, bila ia menjadi seorang pemboros, bila ia di panggil pulang oleh Tuhan.
Kadang-kadang orang mencari ketenangan dan kebahagiaan dalam berbagai jabatan kewenangan dan kekuasaan. Bila sedang berada di puncak, para pemimpin politik mendapat sanjungan dan penghormatan. Pawai diadakan untuk menghormati mereka. Pujian bagi mereka disiarkan dalam surat kabar maupun dari atas mimbar, dan mereka merasa di awang-awang. Tetapi kita juga tahu apa yang terjadi bila mereka kehilangan kekuasaan. Pemimpin yang sama kemudian menghadapi cercaan dan hinaan dari rakyat yang sama. Sering kali mereka menjadi sasaran peluru atau dijebloskan ke dalam penjara. Nama mereka kemudian menjadi haram dan mereka direndahkan dan dihinakan dengan segala cara. Sehinga, tempat yang tadinya mmenjadi sumber kesenangan dan kebahagiaan bagi mereka, kemudian berubah menjadi neraka dan maut dan kehancuran.
Yang pasti, kebanyak orang mencari kebahagiaan dan kesenangan dengan jalan mengumpulkan harta. Mereka bekerja siang malam dan mengurbankan banyak prinsip dalam usaha yang tidak terpuji ini. Tetapi, mereka akan segera sadar bahwa kekayaan dan kebahagiaan tidak sinonim. Kesedihan yang tidak terperikan akan tersirat pada wajah mereka bila timbunan harta mereka mulai berkurang, karena uang mulai mengalir ke kantung para dokter untuk pengobatan berbagai macam penyakit, atau ke dalam dompet sang pengacara bila mereka terlibat dalam perkara pengadilan yang panjang yang menghabiskan banyak biaya, sehingga tubuh mereka merana.
Ada juga beberapa orang yang mencari kesenangan dengan jalan minum anggur, wiski, dan dengan jalan makan daging, ikan dan unggas. Itu memang dapat memuaskan selera mereka; itu kelihatannya enak dan lezat, tetapi hal tersebut seringkali mengakibatkan mereka harus masuk rumah sakit atau rumah perawatan, dan kadang –kadang mereka bahkam harus masukpenjara hingga mereka harus bekerja keras.
Pertanyaan tentu timbul mengapa ketenangan dan kebahagiaan dalam dunia ini begitu semu. Tuhan telah membuat susunan dunia ini dari jalinan suka dan duka. Dalam ‘lembah air mata ini’ dimana setiap mawar mempunyai duri, maka setiap kesenangan bercampur deangan penderitaan, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa ia hanya mengecap kebahagiaan yang murni, dan tidak ada seorangpun yang nasibnya hanya
Apa Yang Kita Inginkan? February 15, 2007
Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.add a comment
Kita menginginkan segala sesuatu di kehidupan ini. Kita ingin uang yang banyak untuk memuaskan segala kemewahan dan kenyamanan hidup. Kita ingin rumah yang besar dan indah, kita ingin mobil, kita ingin keluarga yang bahagia, pasangan hidup yang mengasihi dan patuh kepada kita, anak – anak yang berharga. Kita ingin kelihatan cantik, kulit yang mulus dan badan yang sehat. Kita ingin pintar dan rajin. Kita ingin mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak serta seorang Bos yang sabar dan mengerti akan diri kita. Kita ingin usaha kita tumbuh dan berkembang serta memiliki karyawan yang mempunyai dedikasi tinggi dan pekerja keras. Kita ingin menjaga keluarga, khususnya kedua orang tua karena kita mecintainya dan ingin agar mereka hidup dengan nyaman. Kita ingin agar anak – anak kita mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita ingin agar Satguru memperhatikan, bicara dan memperhatikan diri kita secara khusus. Kita ingin di cintai dan dikasihi. Kita ingin kedamaian dan kebahagiaan untuk diri kita sendiri dan juga untuk seluruh dunia. Semua keinginan kita tidak ada habisnya. Kita berpikir bahwa dengan memenuhi segala keinginan, kita akan mencapai kedamaian yaitu suatu kebahagiaan dan kesenangan untuk mana kita mencarinya terus menerus. Para suci dan mistik mengatakan kepada kita bahwa tiada seorangpun yang akan dapat memiliki kedamaian dan kesenangan di dunia maya ini dimana tidak ada kesengan bercampur dengan penderitaan.
Para Suci di setiap jaman telah mengatakan bahwa jiwa adalah sinar dari cahaya Tuhan, tetesan dari lautan kedamaian dan kebahagian yang maha luas dari mana ia telah di berangkatkan dalam kurun waktu yang begitu lama. Sejak berpisah, jiwa tidak mengetahui apa-apa tentang kesedihan dan penderitaan di dunia maya ini. Tiada seorangpun yang benar – benar bahagia di dalam penjara lingkaran dari kelahiran dan kematian.
Jiwa, telah turun kedalam tubuh pisik ini, dan terikat erat dengan pikiran yang mencintai kesenangan indera yang akhirnya membuatnya benar-benar menjadi budak dari indera itu sendiri. Jiwa telah merosot dari keaslian dan kemurniannya, dimana begitu banyak kotoran yang mengelilinginya sehingga jiwa benar-benar melupakan keasliannya, dan sebagai hasilnya jiwa menderita dari kesengsaraan, khayalan dan kesusahan. Setiap orang mencari kebahagiaan, namun bila mencarinya di alam kesenangan dan benda-benda duniawi, itu justru akan membawa dan mendatangkan lebih banyak penderitaan. Orang tidak dapat menemukannya karena mereka tidak mencarinya di tempat dimana semestinya dapat di temukan. Para Suci memberi nasehat bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber dari kebahagian abadi. Tetesan mendapatkan kebahagiaan hanya bila berstu kembali dengan lautannya.
Ketika Jiwa memasuki bentuk manusia untuk pertama kalinya, jiwa menikmati dari luas dan ramainya dari dunia ini. Dunia dengan kesenangan inderawi ini begitu mempesonakan, dan ada begitu banyak hal yang dapat di lihat, dilakukan, dan di alami. Para suci mengatakan bahwa jiwa dapat turun dalam banyak kelahiran, menikamati kesenangan inderawi dengan sedikit atau tanpa memahami sesuatu yang lebih tinggi.
Amanat SANG SUCI December 10, 2006
Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.add a comment
Di antara semua orang suci yang telah datang ke dunia ini sejak zaman dahulu kala, tidak ada yang bermaksud untuk mendirikan agama maupun syahadat yang baru. Semuanya membawakan amanat yang sama. Mereka semua mengkotbahkan kebenaran yang sama dan menunjukkan jalan yang sama itu juga. Amanat, ajaran dan jalan mereka berlaku untuk semua zaman dan seluruh umat manusia. Karena terdorong oleh kepentingan pribadi, maka setelah mereka pergi, kitalah yang berusaha untuk menyempitkan ajaran mereka yang bersifat universal.
Para suci datang untuk menanamkan di dalam diri kita benih kasih akan Tuhan. Mereka datang untuk menyatukan kita dan bukan untuk mencerai-beraikan. Mereka datang untuk mengajar bagaimana kita harus membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka datang untuk melepaskan semua keterikatan kepada dunia yang fana ini. Mereka datang untuk membebaskan kita dari roda kelahiran dan kematian. Mereka datang untuk membawa jiwa pulang kembali kepada Tuhanya. Namun sayang, sejarah tentang usaha-usaha semacam itu menunjukkan bahwa ajaran tersebut kemudian menyimpang dan dilapisi oleh konsep pikiran yang rendah karena ketidak mampuannya untuk menangkap makna yang sebenarnya.
Di dalam dunia ini terdapat dua golongan manusia. Gurmukh dan Manmukh, yaitu mereka yang membaktikan diri kepada Satguru dan mereka yang tunduk dibawah perintah pikiran. Keduanya telah diciptakan oleh Tuhan yang sama. Sesuai dengan kehendakNya, ada yang menjadi Gurmukh, sedangkan yang lain hidup dalam kegelapan. Tuhan ada di mana-mana, namun demikian, Ia terpisah dari semuanya. Ia ada di dalam diri orang yang jahat maupun yang baik, yang durhaka maupun yang takwa. Ya, Ia ada di dalam setiap partikel, setiap daun dan setiap benih. Di dalam diri orang-orang tertentu, Ia dapat dilihat, sedangkan di dalam diri yang lain, Ia tersembunyi. Para Manmukh sama sekali melupakn Tuhan tetapi sangat mencintai pemberian-pemberianNya. Mereka hanya dapat bangun dari tidur yang nyenyak bila mereka bertemu dengan seorang suci dan menerima ajaranNya.
Para suci menerangkan bahwa jiwa merupakan tetesan dari lautan Ilahi. Karena terpisah dari sumbernya, ia telah terperangkap dalam jerat ilusi dan berteman dengan pikiran. Tetapi pikiran sendiri berada di dalam cengkraman panca indera dan menari-nari mengikuti iramanya. Apapun yang di lakukan oleh pikiran di bawah pengaruh panca indera, jiwa juga harus memikul akibatnya.Dunia ini merupakan medan yang luas dari aksi reaksi. Sebab dan akibat benar-benar terjalin menjadi satu. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Bila kita menanam cabai, kita tidak akan memetik apel; begitu juga, kita tidak dapat menanam semak berduri dan berharap untuk memetik bunga mawar. Dimanapun kita berinkarnasi di dunia ini, kita mengalami kesusahan dan penderitaan. Bentuk atau tubuh apapun yang kita miliki, kita tidak dapat menemukan ketenangan yang abadi. Lihatlah nasib kambing dan domba. Jutaan ekor disemblih setiap harinya untuk makanan kita. Tanpa kenal ampun, kita mengayunkan pisau ke leher mereka. Alangkah acuh tak acuhnya kita meskipun mereka menjerit secara mengibakan. Namun demikian, bila dokter menyiapkan jarumya untuk menyuntik kita, seluruh badan kita mulai bergetar. Bahkan manusia yang merupakan gambar dan rupa Tuhan juga tidak mengalami nasib yang lebih baik daripada binatang. Cangkir kesedihan mereka sama penuhnya. Kecemasan dan kekhawatiran menggerogoti hatinya. Penyakit dan penderitaan memainkan perannya sendiri. Pertentangan dan pertikaian menghancurkan ketenanganya.
Kebahagian sejati hanya dapat diperoleh bila kita pulang ke rumah sejati kita. Kita hanya dapat mengecap kebahagian sejati bila jiwa kita bergabung kembali dengan sumbernya. Di dunia ini, jiwa selalu merindukan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa kita senantiasa mencari-cari Tuhan. Kita mendambakan kebahagian yang sempurna, kebahagian yang murni, kebahagian yang kekal. Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang mendambakan kebahagian yang terbatas, kebahagian yang bercampur dengan penderitaan, kebahagian yang bersifat sementara. Tujuan akhir kita semua adalah Tuhan yang mahaesa itu juga. Ia adalah Tuhan umat Hindu, Sikh, Islam maupun Kristen. Umat Buddha, Jain, Zoroastrian, semuanya menyembah Dia. Orang yang hidup di jaman moderen mempunyai Tuhan yang sama dengan orang yang hidup di jaman purba. Ia adalah Tuhan yang Esa bagi seluruh alam semesta. Meskipun empat zaman selalu datang silih berganti. Tuhan yang Mahaesa itu tetap tak berubah dan kekal.“Pada awal mulanya Tuhan ada; dalam keempat zaman Tuhan ada; sekarang ada; dan untuk selamanya Tuhan yang sama akan tetap ada” kata Guru Nanak. Segala sesuatu yang kita lihat disekeliling kita mengalami perubahan. Hukum yang tak dapat digangu gugat tentang kelahiran, kematian dan pembusukan berlaku setiap saat. Bahkan kelahiran sendiri merencanakan kematian. Berbgai bangsa dan suku lahir, dewasa dan punah. Segala sesuatu mempunyai awal serta akhir. Hanya Dialah yang kekal dan abadi.
Manusia adalah Puncak Ciptaan October 16, 2006
Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.add a comment
Tubuh Manusia Adalah Untuk Menghayati Tuhan
Para suci mengajak kita untuk mengamati keadaan yang melanda dunia. Mereka menunjukkan kepada kita bagaimana manusia, karena melupakan Tuhan, tenggelam dalam berbagai aktivitas. Mereka melupakan eksistensi Tuhan. Mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan Dia. Mereka sama sekali tenggelam dalam kenikmatan inderawi.
Pepatah mereka berbunyi: “Makan, minum dan bersukarialah” Anggapan bahwa “Dunia ini menyenangkan; siapakah yang tahu menahu tentang dunia yang akan datang? Tetap menjauhkan mereka dari kenyataan. Mereka lupa bahwa ada sesuatu yang disebut MAUT. Mereka mengabaikan fakta bahwa orang yang lahir harus mati. Mereka menyaksikan bagaimana semua handai tolan satu per satu pergi dan tidak kembali. Mereka bahkan mengikuti upacara pembakaran dan pemakaman kaum kerabatnya, tetapi mereka beranggapan bahwa maut hanya berlaku bagi orang lain sedangkan bagi dirinya sendiri tidak. Mereka tidak pernah mempertimbangkan bahwa harinya akan segera tiba dimana mereka juga akan mengalami nasib yang sama yang tak dapat dihindarkan itu.
Dalil bahwa barangsiapa hidup enak harus mati merana, sama sekali tidak mereka kenal. Semua orang suci memperingatkan kita bahwa maut sedang menunggu –nunggu setiap orang, tidak ada seorangpun yang dapat meloloskan diri daripadanya. Setiap orang harus mati dan meghadap kepada Hakim Ilahi. Sebelum ia bebas dari tubuh yang satu, tubuh yang lain sudah siap mengurung jiwanya. Bagaikan seorang narapidana, tangannya selalu terbelenggu. Dunia ini merupakan gunung, dan semua perbuatan kita memantulkan gemanya kepada kita. Seandainya manusia mengetahui keadaanya yang sesungguhnya, ia pasti akan merasa cemas. Ia pasti akan meratapi nasibnya dan berusaha untuk memperbaikinya.
Hidup manusia telah dikaruniakan kepada kita bukan untuk menikmati kesenangan inderawi, melainkan untuk menghayati Tuhan dan menyatukan jiwa dengan-Nya. Karena itu, hidup manuisa harus dimanfaatkan untuk menyembah Tuhan. Kita telah terpisah dari Dia sejak lama sekali. Keempat zaman telah berputar mengelilingi porosnya untuk kesekian kalinya, namun kita masih merupakan mahluk duniawai yang mengalami susah dan sedih, sakit dan derita, siksaan dan kecemasan.
Jiwa kita merupakan setetes dari lautan Tuhan. Tetapi pikiran mengombang-ambingkannya dan ia harus menderita akibat dari semua perbuatan yang dilakukannya dalam keadaan itu. Orang kaya dan miskin, raja dan pengemis, pria dan wanita, semua sibuk menyelesaikan hutang piutang perbuatan mereka. Dimanapun seseorang dilahirkan, ia sedikit banyak mengalami penderitaan. Para Suci menyamakan dunia ini dengan samudera yang pantainya tidak kelihatan, yang dalamnya tak dapat di duga dan yang penuh dengan arus dan pusaran dan dimana amukan badainya yang dasyat selalu menghempaskan ombaknya.
Di dalam lautan (dunia) yang begitu berbahaya itu, kita berlayar kesana kemari dengan perahu yang rapuh dan bocor, tanpa layar, dayung maupun kemudi, dan akibat dari keadaan seperti itu sudah dapat kita bayangkan. Kita akan tertelan oleh ombak dan tenggelam di kedalaman air yang maha luas itu. Lautan itu mempunyai pola kehidupan yang jauh lebih rumit. Ia mencakup 8.400.000 jenis mahluk hidup. Namun demikian kita tidak pernah berusaha untuk mencari seorang Nahkoda yang dapat membawa kita ke seberang.
Kita terikat kepada keinginan dan perintah pikiran kita. Kita telah berteman dengan musuh yang begitu licik itu sehingga akibat-nya hanyalah penderitaan semata-mata. Pikirkan sejenak nasib binatang yang kita sembelih dalam jumlah jutaan untuk kita makan. Namun jarum suntik seorang Dokter sudah dapat menjadikan kita takut, membuat kita gemetar bila melihatnya. Tidak pernah terpikir oleh kita bahwa bila kita harus lahir sebagai burung atau hewan lain oleh sebab karma, maka kita tentu tidak akan rela untuk di penggal.
Jangankan mahluk yang rendah, manusia sendiri yang menjadi anak emas alam semesta, puncak ciptaan – manusia yang di ciptakan serupa dengan Tuhan – tidak bernasib lebih baik. Cangkir kesedihannya hampir selalu meluap. Bila ia mempunyai banyak anak, ia mungkin menderita karenanya. Bila ia tidak mempunyai anak, ia mengidam-idamkannya. Kekayaan dan kemelaratan, keduanya seringkali membawa siksaan dan derita. Kehormatan dan sanjungan seringkali berakhir dengan debu dan keaiban. Bila kita amati dengan seksama, dunia tempat manusia hidup benar-benar memperihantinkan; tak terhitung banyaknya janda dan anak yatim piatu yang ada, banjir dan kelaparan menjadikan banyak orang menderita; penyakit dan kekacauan senantiasa mengganggu umat manusia. Suka dan duka tak dapat dipisahkan dari pola kehidupan manusia. Hidup manuisa bernafaskan keserba-duaan. Suka diganti oleh duka, sehat oleh sakit, kehormatan oleh aib. Selama mahluk yang fana itu tidak membebaskan diri dari dunia, ia sama sekali tidak mempunyai peluang untuk menghayati kebahagiaan yang kekal.
Jiwa terkubur di dalam tubuh, dan selama ia masih belum bangun dan bangkit, ia tetap harus menerima apa yang diberikan oleh tubuh yang sesungguhnya merupakan makam baginya; yaitu kesenangan untuk sesaat dan penderitaan yang tidak ada habisnya. Matanya tertutup; ia melihat umpanya tetapi tidak melihat jeratnya yang mengerikan.
Bunga Rampai Rohani July 15, 2006
Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.add a comment
Amal perbuatan seberat satu ons adalah lebih baik daripada teori seberat satu ton. Apakah gunanya untuk mengetahui prinsipnya bila itu tidak di amalkan? Seorang terpelajar yang tidak mengamalkan pengetahuannya, tidak ada bedanya dengan hewan beban yang mengankut buku-buku di atas punggungnya. Mempraktekkan sesuatu adalah lebih baik daripada sekedar mengetahui. Teladan adalah lebih baik daripada sekedar ajaran. Rahwana, Raja Alengka, bukan saja terpelajar, melainkan juga seorang pengulas kitab suci Weda yang terbaik. Namun perbuatannya tidak sesuai dengan pengetahuan yang luas itu, karena ia menurunkan martabat dirinya dengan melarikan istri orang lain sehingga harus menanggung kehancuran seluruh bangsanya.
Hati yang murni adalah paling penting untuk memperoleh kemajuan rohani. Anda tidak dapat mengharapkan seorang Raja untuk masuk ke dalam ruangan yang kotor. Seekor anjing sekalipun tidak mau duduk di tempat yang kotor. Jadi, bagaimana anda dapat mengharapkan Tuhan untuk masuk ke dalam hati yang penuh nafsu berahi, kemarahan, ketamakan, keterikatan dan kesombongan?
Tubuh kita adalah Rumah Tuhan yang hidup. Ia tidak boleh di nodai dengan jalan makan daging, minuman beralkohol dsb. Selain itu, ketidak jujuran, nafsu berahi, kemarahan, ketamakan, kebencian, kesombongan, kesiasiaan, egoisme dan keterikatan duniwai tidak boleh menguasainya. Mereka harus dibersihkan agar tubuh itu layak menjadi tempat bersemayam Tuhan.
Jangan menyakiti hati orang lain. Itu adalah dosa yang Tuhan sendiri tidak akan mengampuniNya dan akan mematikan sama sekali kehidupan Rohani. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Kita harus bersikap rendah hati dan selalu berbicara dengan ramah tamah.
Sheikh Farid, seorang Mistik Islam yang Agung berkata:
Farid! Jika Engkau rindu untuk melihat Sang Kekasih Jangan menyakiti hati orang lain.
Jika mereka memukulmu, jangan membalas memukul
Melainkan ciumlah kaki mereka, dan berjalanlah Pulang.
Bila anda ingin memasuki Jalan Para Satguru, bersedialah untuk menyerahkan tubuh, pikiran dan harta benda anda. Hentikanlah semua keinginan anda. Lepaskan keterikatan anda dan bersedialah untuk menanggung celaan dan ejekan. Bila anda tidak dapat mencapai cita-cita itu, jangan berharap untuk berhasil. Ingat! Anda tidak dapat dan tidak akan memperoleh sesuatupun di dunia ini tanpa membayar harga sepenuhnya. Hanya orang-orang yang bodoh saja yang berusaha untuk memperoleh sesuatu secara Cuma-Cuma. Bahkan orang yang mengira bahwa ia telah memperoleh sesuatu secara Cuma-Cuma, ia sebenarnya telah membuat hutang yang baru. Selama ia masih mempunyai hutang di atas muka bumi ini, meskipun hanya sepeser, maka ia harus datang kembali untuk melunasinya. Bahkan sebutir beras dari ladang tetangga yang secara tidak sengaja masuk ke dalam lumbung anda, itu juga harus diperhitungkan. Anda pasti harus membayar untuk semua yang telah anda peroleh. Hukum itu tidak dapat di ganggu gugat dan tidak dapat di abaikan. Pembayaran tetap harus di lakukan, apakah itu secara sengaja atau kelak di kemudian hari
Tidak ada hasil tanpa pengurbanan. Hasil dari kesenangan adalah kesakitan. Emas harus kita gali dari sebuah tambang dan untuk memperoleh mutiara, kita harus menyelam ke dasar laut. Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan tanpa mengalami kesakitan. Pengurbanan apakah yang tidak di berikan oleh seseorang guna memperoleh benda-benda yang ia senangi? Jadi, bagaimana anda dapat berharap untuk memperoleh penghayatan akan Tuhan tanpa pengurbanan yang sesuai? Anda harus bekerja keras tanpa mengenal lelah. Anda harus makan sedikit, berbicara sedikit dan tidur sedikit. Anda harus benar-benar menjauhkan diri dari masyarakat dan pamor. Anda harus menjadikan pikiran rendah hati dan harus mengendalikan panca indera.
Pikiran yang tidak murni merupakan rintangan yang besar bagi kebangkitan rohani. Ia bekerja seperti racun. Waspadalah selalu dan alihkan segera pikiran anda dari hal-hal seperti itu. Jika anda menggaruk tempat yang gatal, maka akhirnya ia akan menjadi bisul yang membahayakan.
Kita harus membiasakan diri untuk “berpikir” – berpikir benar. Hanya sedikit sekali orang yang “berpikir”. Mengapa orang marah? Karena mereka tidak berpikir. Mengapa seorang ibu menangis saat anaknya meninggal dunia? Mengapa orang bunuh diri bila kehilangan harta benda atau kekayaan? Karena mereka tidak berpikir. “Vichar” (berpikir benar) adalah sama dengan sembilanpuluh persen “Abyhas” (latihan rohani). Berpikir benar merupakan suatu karunia. Dengan sedikit latihan, itu akan mudah diperoleh. Sebagian besar dari perbuatan kita, itu kita lakukan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Pikirkanlah selalu dengan tenang. Jiak anda tahu betapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh kemarahan pada hati dan jantung anda, maka anda tidak akan pernah marah. Tanyakan kepada seorang dokter,maka ia akan menerangkan bagaimana kemarahan meracuni darah anda.
Apakah kecemasan pernah membantu seseorang membantu memecahkan suatu persoalan? Kecemasan timbul karena pikiran kalut. Biasakanlah diri untuk berpikir benar dan jangan menanggapi semua kesulitan dan kesusahan. Bahkan Iblis sendiri tidak akan berdaya selama orang dapat tertawa. Apakah tertawa memerlukan biaya? Tertawa adalah sama mudahnya seperti bergelisah dan bercemas diri. Hanya sedikit usaha yang diperlukan pada permulaannya. Setelah beberapa waktu, itu akan menjadi suatu kebiasaan. Kecemasan anda menunjukkan bahwa anda tidak percaya akan kebaikan Tuhan maupun Tuhan sendiri. Biarkanlah Dia untuk menyelesaikan segala sesuatu menurut caraNya sendiri dan bukan menurut cara yang kita inginkan. Berusaahalah untuk menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang Ia lakukan; dengan demikian maka anda tidak akan merasa sedih.
Luka pada tubuh ynag disebabkan oleh senjata tajam akan sembuh setelah beberapa waktu, namun tidak demikain halnya dengan luka yang dibuat oleh lidah pada hati seseorang. Berhati-hatilah agar tidak melukai perasaan mahluk hidup manapun.
Jangan memfitnah orang lain. Itu dosa besar. Melakukan dosa-dosa yang lain mungkin akan memberikan kita kesenangan atau kenikmatan, tetapi coba renungkan, apa senangnya untuk “memfitnah orang”.
Sheikh Sa’adi, resi yang terkenal dari Shiraz berkata, “Bila saya harus memfitnah orang lain, maka saya akan memfitnah ibu saya sendiri. Karena bila jasa perbuatan baik saya harus berpindah ke tangan orang lain, itu akan saya berikan kepada ibu saya sendiri. “Maharaj Ji seringkali mengatakan bahwa semua perbuatan baik seorang pemfitnah akan menjadi keuntungan bagi orang yang difitnah. Si pemfitnah akan membersihkan dosa kita tanpa memungut
Jalan kasih sejati tak pernah mulus, “Kata Shakspeare, Semakin tulus kasihnya, semakin sulit perjalannanya. Begitujuga halnya dengan mengasihi Tuhan. Semakin anda mengasihi Dia, semakin banyak kesulitan dan percobaan yang akan Ia berikan kepada anda . Untuk memurnikan emas, ia harus dimasukkan ke dalam api. Paltu Sahib berkata, “Kasih bukan suatu hal yang mudah. Apakah engkau bersedia memenggal kepalamu sendiri? Bila tidak, jangan mengangan-angankan tentang kasih. Ia bukan sepotong kue yang dapat anda telan dengan mudah. Seorang pengasih tetap tergantung di atas kayu salib siang malam. Ia mengalami kematian selagi hidup dan ia melespaskan semua keinginan dari tubuh dan kehidupan. Tidak ada setets darahpun yang masig tertinggal di dalam dirinya. Ia tidak pernah menangis dan hatinya tidak pernah berkeluh kesah. Dengan meniggalkan semua kesombongan dan kehormatan, Ia sampai –sampai mengurangi tidur dan makanya. Alangkah bodohnya mereka yang mengira bahwa menjadi seorang pengasih adalah seperti berpesta pora!
Betapa kita menyia-nyiakan hidup manusia yang berharga ini dengan mengejar-ngejar kenikmatan inderawi yang hanya akan membawa ekor kesusahan, penyakit, kesengsaraan dan kesakitan. Sebenarnya, kita seakan-akan tidak menyadari betapa besarnya nila dari pemberian yang berharga yang telah di karuniakan Tuhan yang Mahamurah kepada kita. Kita mendapatkan tubuh manusai setelah melewati jutaan kehidupan sebagai mahluk-mahluk yang rendah. Bahkan sebagai cacing, burung dan hewan, kita telah mempunyai ayah, ibu, anak-anak. Pada saat itu, kita juga mengalami kasih dan benci, nafsu berahi, kemarahan, kelaparan dan ketamakan. Kalau begitu dimanakah letak keunggulan manusia? Tujuan utama mengapa sang Pencipta memberi akal budi bahwa kita harus mengenal diri kita sendiri maupun Pencipta kita dalam hidup sekarang ini juga. Bila kita gagal untuk melakukan hal itu, maka kita tidak akan ada bedanya dengan binatang. Jadi, mari kita memanfaatkan pemberian untuk dapat menghayati Tuhan ini.
Kejahatan cenderung untuk menarik kita ke bawah. Satu saja pikiran jahat akan menjatuhkan kita dari ketinggian surga atau Brahmanda ke alam neraka yang paling rendah. Seperti orang yang meluncur dari atas bukit salju, begitu pul apikiran tentang nafsu birahi akan menarik seorang bakta Tuhan ke bawah. Nafsu birahi dan kasih kepada Tuhan saling bertentangan. Mereka tidak dapat bersama-sama dalam sebuah hati. Dimana ada nafsu birahi, kasih terhadap Tuhan tidak akan ada, dan dimana kasih kepada Tuhan meresapi, nafsu birahi sama sekali akan menghilang.
Kesusahan, penyakit, penderitaan dan kesakitan adalah alat-alat pemurni yang ampuh. Mereka menjadikan kita lebih baik dan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.
Bhatara Krisna berkata kepada Udho di dalam Bhagavad Gita “Aku memberikan tiga hadiah istimewa kepada para bakta yang paling aku sayangi”.
Itu adalah: (1) kemiskinan, (2) penyakit, dan (3) aib” memang benar apa yang dikatan oleh Tuhan Yesus Kristus, yaitu bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk masuk ke lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan surga.
Bhatara Krisna menanamkan kecintaan akan tubuh, kesia-sian , kesombongan dan keterikatan kepada harta benda dan duniawi sebagai penghalang dalam perjalanan menuju Penghayatan akan Tuhan.
Setelah mencapai ParBrahm, orang akan sadar bahwa Tuhan adalah tak terhingga dan Abadi, bahwa Ia adalah merupakan kehidupan dan Cahaya dari segala sesuatu – semua adalah sama Dia dan segala sesuatu berasal dari Dia – dan bahwa Tuhan yang Mahakuasa, Sabda dan Jiwa mempunyai hakikat yang sama. Manusia memikirkan tentang segala sesuatau yang ada di dunia, namun ia jarang sekali memikirkan tentang dirinya sendiri. Apakah ia tahu berapa besar harta yang tersimpan di dlam tubuhnya, yang bahkan para malaikat di surga tidak pernah memimpikannya? Alangkah malan dan bodohnya ia! Berpalinglah ke dalam diri anda guna mencari Kebahagian, kedamaian dan kenikmatan. Tidak ada orang yang pernah menemukanya dari tanah, udara dan air.
Ubahlah kesakitan dan kesulitan menjadi kesenangan. Yang menjadikan kita bersedih hati adalah keadaan lingkungan dan sikap kita sendiri dalam menanggapi segala sesuatu. Alangkah kejamnya untuk menyemblih hewan dan unggas guna mengisi perut kita. Bukankah kebanyakan dari penyakit yang menimpa kita disebabkan karena kita telah meracuni diri kita secara demikian? Kekuatan jiwa adalah tak terbatas dan tak terhingga. Bukankah ia merupakan tetesan dari Lautan yang tak terhingga dan tak terbatas itu – Tuhan Yang Maha Kuasa? Jadi, mengapa harus menjadi seorang pengecut dan menyerah kepada musuh yang begitu licik, yaitu pikiran?
Di dalam diri anda terdapat sebuah jendela yang membukak ke arah Tuhan. Membuka jendela itu adalah sama mudahnya seperti membuka salah satu jendela rumah anda. Ketuk, ketuk, ketuklah. Ia mendengar. Bial pintu belum di buka dari dalam, jangan meninggalkannya. Teruskan mengetuk, mengetuk, begitu kerasnya sehingga Ia terpaksa membukanya. Tuhan mengasihi orang yang rendah hati dan hina. Berhati-hatilah agar tidak menyakiti hati orang lain. Tuhan bersemayam disana. Bagi orang yang melukai hati orang lain, pintu surga akan tetap tertutup. Berbicalah selalu secara lemah lembut, penuh kasih saying tanpa meninjolkan diri sendiri. Semakin tinggi kedudukan anda, pikiran anda harus semakin lembut. Kata-kata yang manis tidak menelan biaya, melainkan dapat menaklukan dunia.