Kemelakatan – KeAkuan January 10, 2007
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
KEMELEKATAN.
Untuk memahami seberapa kuat kelemelakatan itu ada baiknya kita melihat dan membaca sebuah cerita berikut ini.
Anda semua tentu sudah pernah mendengar kisah tentang seorang pahlawan besar Persia yang bernama Rustam dan putranya Sohrab. Mereka adalah Bapak Anak, tetapi mereka tidak pernah bertemu muka sampai dimana suatu saat mereka harus berjuang mati-matian di arena pertempuran, masing-masing sebagai komandan dari dua pasukan yang saling bermusuhan. Rustam harus meninggalkan rumahnya beberapa saat setelah kelahiran Sorhab untuk melakukan misi penaklukan dunia yang direncanakan oleh Raja Persia, dan ia menjadi Komandan pasukannya. Ia meninggalkan sebuah jimat kepada istrinya, dengan pesan untuk mengikatkannya pada lengan kanan anak itu agar ia dapat mengenali putranya bila ia bertemu. Sejak usia yang sangat muda, Sorhab telah menggabungkan diri pada pasukan kerajaan Yunani dan berkat kemapuan dan kekuatannya yang besar, maka dalam waktu yang singkat, ia telah dijadikan Komandan. Pada waktu itu, Komandan pasukan harus ikut berjuang seperti prajurit. Ketika ayah dan anak tersebut saling berhadapan, mereka tidak mengetahui akan hubungan darah mereka dan masing-masing bertempur mati-matian selama lima belas hari tanpa henti. Rustam, yang lebih tua membuat putranya tersandung serta jatuh ke tanah, Rustam menggunakan kesempatan baik tersebut, dan segera ia menikamkan goloknya ke dada Sohrab. Sohrab menjerit, “Orang malang! Berhati-hatilah terhadap balas dendam Rustam, ayahku. Untuk perbuatan keji ini, ia pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal kepadamu.”
“Rustam terhuyung huyung ketika ia mengenali jimat yang ada pada lengan Sohrab. Karena duka cita yang amat dalam, darah mengalir turun dari mukanya dan tubuhnya mengigil bagaikan batang-batang bamboo. Seakan bisu, ia mendekap Sohrab dan mencium dahinya. “Anakku? Anakku? Ya Tuhan! Mapakah yang telah kulakukan? Ampun, Ampun ya Tuhan! Teriaknya dengan duka cita yang amat dalam. Ratap tangisnya terdengar sampai jauh, sehingga kawan maupun lawan ikut menangis bersamanya. Luka yang diderita putranya sangat berbahaya. Secepat kilat ia menunggang kudanya menuju sang raja, satu-satunya orang yang mempunyai Tariaque (obat untuk luka-luka yang berat). Tetapi sang raja yang telah mendengar tentang keberanian dan keperkasaan Sohrab, menolak untuk memberikan obat tersebut kepada Rustam. Ia mengemis dengan penuh iba, menjatuhkan diri di kaki raja, mengajukan berbagai macam permohonan, doa serta janji dan berkata bahwa putranya akan lebih berhasil daripadanya dan bahwa ia akan menaklukan seluruh dunia bagi Persia. Tetapi tidak ada yang membuat sang raja meluluskan permintaannya. Sohrab sementara itu telah meninggal sebelum ayahnya kembali. Sewaktu Rustam melihat mayat anaknya, ia jatuh pingsan dan sejak itu, ingatannya tidak waras lagi.”
RENUNGAN:
Dalam cerita tersebut ada dua orang yang bermaksud saling membunuh. Masing-masing menganggap yang lain sebagai musuhnya. Setelah membantai Sohrab secara biadad, Rustam menangis dan meratap karena sekarang ia melihat korban tersebut sebagai anaknya. Orang-orangnya tetap sama. Keadaan yang lain juga tidak berubah. Hanya perasaan ‘aku’ dan ‘kepunyaanku’ saya yang mulai timbul di hati. Sebelum perasaan ‘milikku’ tersebut timbul, Rustam tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang yang ingin di bunuhnya. Kita tidak mempunyai kawan maupun lawan. Hanya pikiran kitalah yang membuat kita berpikir demikian.
Kebajikan September 25, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Tuhan mempunyai banyak kebajikan. Jiwa yang meresapkan kebajikan itu di dalam dirinya, akan dapat menemukan Tuhan dan akan menjadi kesayangan Tuhan. Ia merupakan seorang mempelai bahagia yang dikasihi Tuhan. Tuhan adalah gudang segala kebajikan. Kebajikan-kebajikan yang dapat dimiliki oleh jiwa sehingga ia akan dimuliakan di pintu Tuhan, dalam kitab Adi Granth dibagi menjadi empatbelas macam. Kita harus menelitinya dan mencamkannya di dalam hati.(1) Mengulang-ngulang nama Tuhan dan merasakan kehadiran Parbrahm (Tuhan Yang Mahaesa)
(2) Orang harus melepaskan keakuan dan memuji Tuhan dan mengasihi Dia
(3) Jangan melukai perasaan orang lain
(4) Jangan bersikap kasar melainkan gunakan budi bahasa yang manis
(5) Seganilah Tuhan
(6) Hiduplah sesuai dengan kehendakNya dan lepaskan semua yang lain
(7) Lepaskan keinginan dan kejahatan
(8) Lepaskanlah keakuan dan jangan mempergunjingkan kejelekan orang lain
(9) Berbuatlah baik kepada orang yang jahat sekalipun. Jangan membalas dendam. Bersikaplah rendah hati dan mawas diri
(10) Tinggalkan hawa nafsu, dendam, ketamakan, keterikatan dan pikiran jahat serta baktikan dirimu dengan rendah hati. Jangan menginginkan istri dan harta benda orang lain. Jangan memikirkan tentang hal-hal yang buruk atau memfitnah orang lain dan hiduplah dengan tenang
(11) Amalkan kebenaran, belas kasihan dan pengampunan
(12) Hilangkan keraguan, carilah Tuhan, kenalilah dirimu sendiri,anggaplah Tuhan sebagai mahaada dan mahatembus dan layanilah para suci
(13) Jadilah duli kaki semua orang, anggaplah semua sebagai teman, lihatlah Tuhan dalam diri setiap orang dan jangan menyakiti mahluk lain
(14) Akuilah maut sebagai suatu kenyataan dan tinggalkan keinginan akan masa mendatang.
Kebaktian September 15, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Dalam diri setiap umat manusia, sifat untuk membaktikan diri merupakan naluri. Semua orang mempunyai kecenderungan alamiah untuk hidup bermasyarakat atau menikmati kesenangan dan kebahagian dengan orang lain, karena secara kodrati, manusai adalah mahluk social dan ia tidak merasa puas kecuali ia dapat menjadi satiu dengan obyek kasihnya. Sebelum itu tercapai, ia akan tetap tidak tenang dan pikiranya mengembara. Di dunia ini orang melakukan bermacam-macam kebaktian, sementara orang berbakti untuk mengumpulkan harta, yang lain senang untuk membaktikan diri kepada keluarga, yang lain lagi ingin dikagumi oleh masyarakat dan berusaha untuk menuntut ilmu dan menjadi seniman. Para pemuja harta, siang malam bekerja tak henti-hentinya dan bila mereka agak berhasil, ia akan mendorongya untuk mengumpulkan lebih banyak harta lagi. Bila kita dapat menabung uang seribu rupiah, kita kemudian tentu ingin menabung ratusan ribu rupiah lagi, sehingga kekeranjingan untuk mengumpulkan uang itu akan sepenuhnya menguasai diri kita. Karena keserakahannya, orang yang tamak tidak dapat membelanjakan uangnya secara bebas dan juga tidak dapat melepaskannya. Karena itu, ia terbakar oleh api ketamakannya sendiri. Bila seseorang membaktikan diri kepada harta, ia selalu takut kepada pencuri dan selalu memikirkan apakah ia harus menyimpan uang di bank atau di lemari besi. Kecemasan itu menjadi bagian dari kehidupannya. Ia juga takut bahwa hartanya akan di rampas oleh para penguasa, sehingga semua ketenangan pikiran akan dihancurkan oleh kecemasan yang selalu menggoda. Orang yang tamak itu sangat egois, karena ia tak dapat memanfaatkan hartanya untuk dirinya sendiri dan tidak bersedia untuk menyumbangkannya kepada fakir miskin atau orang lain. Jadi, jelaslah sudah bahwa kita tidak patut membaktikan diri kepada harta. Kita tidak dilahirkan untuk mengumpulkan harta, karena harta hanya ibarat bayangan yang dapat memanjang dan memendek setiap saat, dan bila harta habis, itu akan menyebabkan goncangan mental. Sebenarnya, harta dimaksudkan untuk melayani manusia dan manusia tidak dilahirkan untuk menjadi budaknya. Sanak kita, keluarga kita dan orang-orang di sekeliling kita, semuanya menjadi mangsa maut. Tiada seorangpun yang bebas dari maut, dan setiap orang menempuh jalanya masing-masing. Bila mereka mengalami maut dan perpisahan, mengapa kita harus mengingakatkan diri kepada mereka? Mereka semua mempunyai perangai yang berbeda-beda sehingga tentu saja pendapatnya juga berbeda. Karena itu, membaktikan diri kepada mereka tidak akan bersifat langgeng atau tetap sama. Orang yang asik membaktikan diri kepada keluarga, sering kali menimbulkan permusuhan dengan orang lain. Orang-orang yang membaktikan diri kepada negara juga bertengkar satu sama lain atau dengan negara lain. Api peperangan dan permusuhan di dunia ini semuanya disebabkan oleh sifat senang bertengkar dari orang-orang seperti itu. Demikian juga, orang yang membanggakan pencapain intelektualnya biasanya senang berdebat dan bersliat lidah, hal mana semakin menjauhkan mereka dari kebenaran. Orang seperti itu selalu ingin menyerang orang lain dari segi ilmiah. Kesombongan karena mngetauhui banyak hal menjadikan mereka besar kepala dan itu memabukkan, sehingga mereka melupakan prinsip yang seharusnya di junjung tinggi. Saudara kemudian bermusuhan dengan saudara, dan dengan pertolongan sains, teknologi dan ilmu, berbagai senjata pemusnah diciptakan. Ilmu pengetahuan seperti itu terus berkembang dan merupakan penyebab dari pertikaian dan penderitaan. Semuanya itu, harta, keluarga, kepandaian dan sebagainya dapat mendatangkan manfaat dan kebahagian bila dipergunakan secara tepat; tetapi karena hal itu tidak mungkin,maka kita tidak patut membaktikan diri kepadanya. Semuanya itu tidak kekal dan tidak sempurna. Diantara semua corak pemujaan, yang paling luhur adalah pemujaan yang dipersemabahkan kepada Tuhan (Sat Purusha) yang Mahaesa, yang Tak Berubah dan Tak Termusnahkan. Ia adalah sang Maha Pencipta, dan kita semua adalah anak-anaknNya. Dengan mengasihi Tuhan, kita juga dapat mengasihi semua ciptaanNYa, karena kita semua merupakan sudara-saudara Tuhan dan Tuhan adalah Bapa kita semua. Dari kasih seperti itu terpancarlah satu persaudaraan antar umat manusia dan satu Ketuhanan Ynag Mahaesa. Anda tidak dapat melihat wajah anda di atas permukaan kaca biasa, tetapi bila kaca itu secar kimiawi dibuat menjadi cermin, anda dapat melihat wajah anda di dalamnya. Dengan cara yang sama, bila hati yang murni diisi kasih dan kebaktian, maka hati itu dapat melihat bayangan Tuhan di dalam dirinya. Kita harus membaktikan diri kepada sesuatu yang mulia, indah dan sempurna, sesuatu yang mempunyai daya tarik magnetis yang kuat, yang dapat menarik pikiran orang lain kepadanya dan yang dapat mengisi pikiran dengan kebahagiaan dan ketentraman yang khas.
Kepuasan August 27, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Hanya orang yang puas sajalah yang dapat melayani orang lain dengan tekun. Ia mencamkan kebenaran, tidak mempunyai niat jahat, ia selalu melakukan perbuatan yang baik sehingga akan memperoleh pahala. Ia sangat sabar. Walaupun memiliki kehormatan, martabat dan wibawa, ia bersedia untuk mengampuni orang lain. I senang bila melihat orang lain memperoleh kemajuan dan kemuliaan dan ia beritikad baik. Walaupun dihormati dan disanjung-sanjung, ia mengasihi orang lain dan bersikap ramah tamah. Walaupun pandai dan bijaksana, ia menghormati para cendikiawan dan berusaha untuk menyerap sifat-sifat baik mereka sebagai tugas semata-mata. Ia rupawan, namun tidak mengumbar kesenangan inderawi. Ia senantiasa sabar, sederhana dan cermat. Orang seperti itu tidak saja puas, melainkan memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Ia merasa puas dengan istrinya dan menganggap orang yang lebih tua daripadanya sebagai ibu, yang lebih muda sebagai saudara atau anak. Ia hidup dari nafkah sendiri. Ia menikmati hidangan yang sederhana sebagai santapan yang mewah dan meneguk air seolah itu Amrita. Ia tidak iri hati bila melihat hidup orang lain makmur.
Bila seseorang itu miskin dan perbuatannya baik, dan Tuhan mengaruniainya dengan kepuasan, maka ia benar-benar kaya. Orang yang kaya namun tidak puas adalah seorang pengemis dan orang yang paling miskin, Karen akelaparannya tidak akan terpuaskan walaupun ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, karena tanpa kepuasan, tidak ada yang dapat di kenyangkan. Hal ini penting sekali, agar sambil berusaha, kita tidak menyalahkan atau lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, atau agar kita lambat laun tidak merasa putus asa bila hasilnya jauh dari yang kita harapkan atau sama sekali tidak ada, atau agar kita tidak menghentikan usaha kita dan menyerah kalah. Kita harus merasa puas dengan hasil perbuatan baik kita. Kita harus menunaikan tugas dengan penuh kesabaran.
Kepuasan August 26, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Hanya orang yang puas sajalah yang dapat melayani orang lain dengan tekun. Ia mencamkan kebenaran, tidak mempunyai niat jahat, ia selalu melakukan perbuatan yang baik sehingga akan memperoleh pahala. Ia sangat sabar. Walaupun memiliki kehormatan, martabat dan wibawa, ia bersedia untuk mengampuni orang lain. I senang bila melihat orang lain memperoleh kemajuan dan kemuliaan dan ia beritikad baik. Walaupun dihormati dan disanjung-sanjung, ia mengasihi orang lain dan bersikap ramah tamah. Walaupun pandai dan bijaksana, ia menghormati para cendikiawan dan berusaha untuk menyerap sifat-sifat baik mereka sebagai tugas semata-mata. Ia rupawan, namun tidak mengumbar kesenangan inderawi. Ia senantiasa sabar, sederhana dan cermat. Orang seperti itu tidak saja puas, melainkan memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Ia merasa puas dengan istrinya dan menganggap orang yang lebih tua daripadanya sebagai ibu, yang lebih muda sebagai saudara atau anak. Ia hidup dari nafkah sendiri. Ia menikmati hidangan yang sederhana sebagai santapan yang mewah dan meneguk air seolah itu Amrita. Ia tidak iri hati bila melihat hidup orang lain makmur.
Bila seseorang itu miskin dan perbuatannya baik, dan Tuhan mengaruniainya dengan kepuasan, maka ia benar-benar kaya. Orang yang kaya namun tidak puas adalah seorang pengemis dan orang yang paling miskin, Karen akelaparannya tidak akan terpuaskan walaupun ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, karena tanpa kepuasan, tidak ada yang dapat di kenyangkan. Hal ini penting sekali, agar sambil berusaha, kita tidak menyalahkan atau lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, atau agar kita lambat laun tidak merasa putus asa bila hasilnya jauh dari yang kita harapkan atau sama sekali tidak ada, atau agar kita tidak menghentikan usaha kita dan menyerah kalah. Kita harus merasa puas dengan hasil perbuatan baik kita. Kita harus menunaikan tugas dengan penuh kesabaran.
Kerendahan Hati August 25, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Agar layak menerima curahan karunia Tuhan, kita harus mengosongkan hati dari kesombongan, karena sebelum wadahnya kosong, ia tidak dapat menampung apa-apa. Bila kita rendah hati, Kal dan Maya tidak dapat mempengaruhi kita. Semua orang Suci memiliki sifat itu dan menyandangnya sebagai perhiasan. Apakah kesombongan palsu atau ketakaburan itu? Menyombongkan salah satu kebaikan yang bukan milik kita, atau yang kita miliki sebagai pemberian dari orang lain,itu adalah kesombongan palsu. Kita tidak patut dihormati atau dimuliakan karena kita dilahirkan dalam keluarga yang terhormat atau Karena nenek moyang kita berjiwa sosial.
Ada orang yang membanggakan pengetahuan dan bakatnya. Ia tidak patut merasa sombong. Itu adalah berkat guru yang mengajar dia dan kepandaian yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Apakah yang patut disombongkan oleh manusia di dunia ini? Orang menyombongkan harta dan benda. Itu bersifat sementara seperti bayangan yang berpindah-pindah tempat. Orang membanggakan usia mudanya yang dapat hilang oleh penyakit dan bertambahnya usia.
Dari pembahasan di atas jelaslah sudah bahwa kita tidak patut menyombongkan kesenangan duniawi. Mengingat tentang kemahamurahan Tuhan yang tak terhingga dan tumpukan dosa dan kesalahan kita, akan menjadikan kita pengemis-pengemis di pintu Tuhan. Karena itu kita harus menelaah apa saja yang telah Ia karuniakan kepada kita dan apa yang kita perbuat denganya. Selama kita percaya bahwa segala sesuatu yang kita miliki, yang baik maupun buruk, tidak kita peroleh sendiri melainkan datang dari Dia, maka tidak ada yang dapat kita sombongkan. Karunia apa saja yang tidak kita terima dari Tuhan? Setelah menerimanya, apakah yang kita lakukan sebagai ungkapan rasa terimakasih kita dan apakah kita menghargainya? Bila jalan pemikiran seperti itu masih dapat menjadikan sombong, maka obatnya yang mujarab adalah memikirkan tentang semua kesalahan dan dosa kita. Egoisme atau kesombongan tidak disukai oleh Tuhan. Ia mencurahkan karuniaNya kepada orang-orang yang pikiranya penuh dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan.
Kerendahan hati bukanlah suatu kelemahan, itu merupakan kekuatan yang sedemikan besarnya sehingga semua kekuatan dunia ini pasti akan tunduk kepadanya. Manusia dapat menaklukan dirinya sendiri dengan kerendahan hati. Tak seorangpun dapat mengalahkan orang yang tidak sombong; karena di balik kerendahan hatinya, kuasa gaib Tuhan bekerja. Kerendahan hati merupakan perhiasan yang disandang oleh jiwa-jiwa mulia.
Kejujuran August 15, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Apa itu Kejujuran? marilah kita sekarang membahas apakah ucapan yang jujur itu, yaitu kata-kata yang diucapkan oleh orang yang jujur. Menceritakan sesuatu tepat seperti yang dilihat atau didengar, itu disebut sebagai jujur. Selain kata-kata yang diucapkan harus jujur, tingkah laku juga harus jujur. Kejujuran harus kita junjung tinggi dan tindak tanduk kita harus berlandaskan kejujuran. Dengan demikian segenap jiwa, pikiran dan tindak tanduk kita akan menjadi jujur.
Dalam mengungkapkan kebenaran, kita tidak boleh mengabaikan rasa belas kasihan. Sesungguhnya, kejujuran tidak melukai perasaan orang lain. Apapun yang diucapkan, itu harus datang dari hati dan sama sekali tidak boleh menyakiti perasaan orang lain. Kejujuran dapat berdiri sendiri namun tidak demikian dengan halnya dengan ketidak jujuran. Orang yang jujur bersifat mantap, sabar dan berpendirian teguh. Orang yang tidak jujur tidak dapat berjalan dengan tegap dan ia tidak mantap. Orang yang jujur tak mengenal rasa takut dan tidak pernah bimbang atau ragu, sebaliknya orang yang tidak jujur selalu dibayangi ketakutan dan tidak mau bertemu pandang dengan orang lain. Orang yang jujur bersifat gagah berani, tetapi orang yang tidak jujur bersifat pengecut dan malas. Karena tidak mengenal takut, orang yang jujur bebas dari kecemasan, sehingga keterikatan berubah menjadi pelepasan. Orang yang jujur menjauhkan diri dari rayuan, bujukan, tipuan dan tidak menutup-nutupi sesuatu.
Dari keterangan di atas, jelaslah sudah bahwa orang yang jujur dapat berhasil dibidang kerohanian. Karena kebenaran berurat akar di dalam dirinya, maka ucapanya juga benar. Ia sendiri menelusuri jalan menuju Tuhan dan juga membimbing orang-orang lain. Orang yang jujur, puas dan mengucapkan kata-kata yang benar, akan menjadi kesayangan Tuhan. Ia tidak pernah merasakan kepedihan hati karena terpisah dari Dia. Tak ada yang ditakuti oleh kebenaran. Kebenaran tidak mempan terhadap kutukan dan Kal juga tidak dapat mencelakakannya. Bila bakta sejati bertemu dengan kebenaran (Tuhan), maka ia akan manjadi satu dengaNya.
Kebersihan February 27, 2006
Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.add a comment
Kebersihan juga merupakan bagian yang penting dari rukun agama. Kebersihan ada dua macam lahiriah dan batinniah. Tubuh jasmani, rumah, pakaian dsb termasuk yang lahiriah dan kemurnian pikiran dan indera termasuk yang batinniah. Tingkah laku yang bersih, makanan yang murni dan perangai yang baik, mutlak perlu untuk memperoleh kemurnian pikiran dan indera. Kebersihan lahiriah dan batiniah itu perlu. Tubuh harus bersih, ucapkan kata-kata yang baik. Tetapi bila pikiran yang timbul di dalam tidak murni, maka yang keluar juga tidak murni. Apa yang memenuhi hati manusia,itulah yang diucapkannya. Karena itu hati dan lidah harus murni. Bila tidak murni bagaimana jiwa dapat menjadi murni? Jangan mengucap kata-kata yang pedas dan kasar. Gunakan kata-kata yang enak di dengar oleh semua orang. Hati yang bersih berarti tidak memikirkan tentang hal-hal yang buruk. Satukan diri anda dengan Nama itu sehingga semua pikiran yang tidak murni dapat hilang dan jiwa anda dapat menjadi bersih dan murni.
Sesungguhnya, orang yang tidak mengalami perkembangan rohani adalah orang yang hina, dan bukannya tukang sapu atau tukang sepatu. Karena itu, seorang pencari kebenaran yang sejati harus mengalami pemurnian rohani seperti yang diajarkan oleh Satguru sehingga Ia dapat mengenal Tuhan. Ia harus menghilangkansemua pikiran kecuali ingatan akan Tuhan, sehingga Tuhan berkenan untuk menyatakan diriNya kepadanya.