jump to navigation

Dunia Maya November 20, 2006

Posted by pengemistuhan in Blogroll.
add a comment

Alam semesta ini tidak lestari dan dapat musnah. Ia senantiasa berubah. Esok hari ia tidak sama seperti sekarang. Di dunia ini tak ada satupun yang tetap. Ia merupakan negeri malaikat Ulmaut, dan ibarat rumah yang terbuat dari pasir,ia sewaktu-waktu dapat hancur.

Segala sesuatu yang kita lihat disini pada suatu hari akan musnah. Semua benda di alam semesta ini berumur pendek. Raja, panakawan, rumah, istana, orang-orang yang menghuninya, semua benda duniawi, emas perak dan mereka yang memakainya, tubuh ini, pakaian, pria maupun wanita, semuanya akan musnah. Orang telah melupakan Tuhan karena keterlibatan benda-benda duniawi itu. Disitu tidak ada seorangpun yang patut kita kasihi. Banyak orang telah pergi, banyak lagi yang sedang pergi, dan yang lain tengah bersiap-siap untuk pergi.  “Harta, benda, istri, rumah dan segala sesuatu yang lain tidak akan menemani kita. Camkanlah itu”

“Setiap hari kita melihat orang meninggalkan dunia ini, tetapi kita berharap bahwa kita akan hidup untuk selamanya. Adalah yang lebih ganjil dari pada itu”

“Engkau adalah tamu untuk semalam, tetapi berharap untuk tinggal berabad-abad lamanya;Rumah dan harta benda yang kaulihat adalah bagaikan bayangan pohon yang selalu berpindah tempat.

Tetapi kita tetap saja asik di alam semesta ini. Harta dan benda, istri dan rumah kita bukanlah mikik kita, dan tiada satupun yang dapat dibawa pada saat kita meninggalkan dunia ini. Jadi, mengapa kita begitu mencintai mereka? Kita menyia-nyiakan waktu yang tak ternila harganya untuk benda-benda yang harus kita tinggalkan, dan tidak menghiraukan apa yang dapat menemani kita. Tubuh yang datang bersama-sama  dengan kita, tidak akan menemani kita. Bentuk dan umurnya tidak akan tetap  sama. Bagaimana kita dapat mengandalkan semua benda dan hubungan yang berkaitan dengan tubuh ini? Persoalannya adalah bagaimana kita menilai kehidupan itu sendiri, Kita harus selalu mencamkan apa yang benar-benar ingin kita ketahui dan cita-cita apa yang ingin kita capai. Orang yang selalu mengingat maut akan tetap bebas dari belenggu dunia dan tidak dapat melakukan perbuatn yang buruk.

Hidup manusia merupakan kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan. Orang yang tidak membaktikan diri kepada Tuhan, ia menyia-nyiakan hidupnya. Hidup manusia adalah langka, jangan menyia-nyiakannya, manfaatkanlah dia untuk berbakti kepada Tuhan. Dalam tubuh yang fana ini, hanya jiwalah yang sejati dan kekal, dan kita harus memeliharanya dengan penuh pengabdian.

Manusia adalah Puncak Ciptaan October 16, 2006

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

Tubuh Manusia Adalah Untuk Menghayati Tuhan

Para suci mengajak kita untuk mengamati keadaan yang melanda dunia. Mereka menunjukkan kepada kita bagaimana manusia, karena melupakan Tuhan, tenggelam dalam berbagai aktivitas. Mereka melupakan eksistensi Tuhan. Mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan Dia. Mereka sama sekali tenggelam dalam kenikmatan inderawi.

Pepatah mereka berbunyi: “Makan, minum dan bersukarialah” Anggapan bahwa “Dunia ini menyenangkan; siapakah yang tahu menahu tentang dunia yang akan datang? Tetap menjauhkan mereka dari kenyataan. Mereka lupa bahwa ada sesuatu yang disebut MAUT. Mereka mengabaikan fakta bahwa orang yang lahir harus mati. Mereka menyaksikan bagaimana semua handai tolan satu per satu pergi dan tidak kembali. Mereka bahkan mengikuti upacara pembakaran dan pemakaman kaum kerabatnya, tetapi mereka beranggapan bahwa maut hanya berlaku bagi orang lain sedangkan bagi dirinya sendiri tidak. Mereka tidak pernah mempertimbangkan bahwa harinya akan segera tiba dimana mereka juga akan mengalami nasib yang sama yang tak dapat dihindarkan itu.

Dalil bahwa barangsiapa hidup enak harus mati merana, sama sekali tidak mereka kenal. Semua orang suci memperingatkan kita bahwa maut sedang menunggu –nunggu setiap orang, tidak ada seorangpun yang dapat meloloskan diri daripadanya. Setiap orang harus mati dan meghadap kepada Hakim Ilahi. Sebelum ia bebas dari tubuh yang satu, tubuh yang lain sudah siap mengurung jiwanya. Bagaikan seorang narapidana, tangannya selalu terbelenggu. Dunia ini merupakan gunung, dan semua perbuatan kita memantulkan gemanya kepada kita. Seandainya manusia mengetahui keadaanya yang sesungguhnya, ia pasti akan merasa cemas. Ia pasti akan meratapi nasibnya dan berusaha untuk memperbaikinya.

Hidup manusia telah dikaruniakan kepada kita bukan untuk menikmati kesenangan inderawi, melainkan untuk menghayati Tuhan dan menyatukan jiwa dengan-Nya. Karena itu, hidup manuisa harus dimanfaatkan untuk menyembah Tuhan. Kita telah terpisah dari Dia sejak lama sekali. Keempat zaman telah berputar mengelilingi porosnya untuk kesekian kalinya, namun kita masih merupakan mahluk duniawai yang mengalami susah dan sedih, sakit dan derita, siksaan dan kecemasan.

Jiwa kita merupakan setetes dari lautan Tuhan. Tetapi pikiran mengombang-ambingkannya dan ia harus menderita akibat dari semua perbuatan yang dilakukannya dalam keadaan itu. Orang kaya dan miskin, raja dan pengemis, pria dan wanita, semua sibuk menyelesaikan hutang piutang perbuatan mereka. Dimanapun seseorang dilahirkan, ia sedikit banyak mengalami penderitaan. Para Suci menyamakan dunia ini dengan samudera yang pantainya tidak kelihatan, yang dalamnya tak dapat di duga dan yang penuh dengan arus dan pusaran dan dimana amukan badainya yang dasyat selalu menghempaskan ombaknya.

Di dalam lautan (dunia) yang begitu berbahaya itu, kita berlayar kesana kemari dengan perahu yang rapuh dan bocor, tanpa layar, dayung maupun kemudi, dan akibat dari keadaan seperti itu sudah dapat kita bayangkan. Kita akan tertelan oleh ombak dan tenggelam di kedalaman air yang maha luas itu. Lautan itu mempunyai pola kehidupan yang jauh lebih rumit. Ia mencakup 8.400.000 jenis mahluk hidup. Namun demikian kita tidak pernah berusaha untuk mencari seorang Nahkoda yang dapat membawa kita ke seberang.

Kita terikat kepada keinginan dan perintah pikiran kita. Kita telah berteman dengan musuh yang begitu licik itu sehingga akibat-nya hanyalah penderitaan semata-mata. Pikirkan sejenak nasib binatang yang kita sembelih dalam jumlah jutaan untuk kita makan. Namun jarum suntik seorang Dokter sudah dapat menjadikan kita takut, membuat kita gemetar bila melihatnya. Tidak pernah terpikir oleh kita bahwa bila kita harus lahir sebagai burung atau hewan lain oleh sebab karma, maka kita tentu tidak akan rela untuk di penggal.

Jangankan mahluk yang rendah, manusia sendiri yang menjadi anak emas alam semesta, puncak ciptaan – manusia yang di ciptakan serupa dengan Tuhan – tidak bernasib lebih baik. Cangkir kesedihannya hampir selalu meluap. Bila ia mempunyai banyak anak, ia mungkin menderita karenanya. Bila ia tidak mempunyai anak, ia mengidam-idamkannya. Kekayaan dan kemelaratan, keduanya seringkali membawa siksaan dan derita. Kehormatan dan sanjungan seringkali berakhir dengan debu dan keaiban. Bila kita amati dengan seksama, dunia tempat manusia hidup benar-benar memperihantinkan; tak terhitung banyaknya janda dan anak yatim piatu yang ada, banjir dan kelaparan menjadikan banyak orang menderita; penyakit dan kekacauan senantiasa mengganggu umat manusia. Suka dan duka tak dapat dipisahkan dari pola kehidupan manusia. Hidup manuisa bernafaskan keserba-duaan. Suka diganti oleh duka, sehat oleh sakit, kehormatan oleh aib. Selama mahluk yang fana itu tidak membebaskan diri dari dunia, ia sama sekali tidak mempunyai peluang untuk menghayati kebahagiaan yang kekal.

Jiwa terkubur di dalam tubuh, dan selama ia masih belum bangun dan bangkit, ia tetap harus menerima apa yang diberikan oleh tubuh yang sesungguhnya merupakan makam baginya; yaitu kesenangan untuk sesaat dan penderitaan yang tidak ada habisnya. Matanya tertutup; ia melihat umpanya tetapi tidak melihat jeratnya yang mengerikan.

Kebajikan September 25, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Tuhan mempunyai banyak kebajikan. Jiwa yang meresapkan kebajikan itu di dalam dirinya, akan dapat menemukan Tuhan dan akan menjadi kesayangan Tuhan. Ia merupakan seorang  mempelai bahagia yang dikasihi Tuhan. Tuhan adalah gudang segala kebajikan. Kebajikan-kebajikan yang dapat dimiliki oleh jiwa sehingga ia akan dimuliakan di pintu Tuhan, dalam kitab Adi Granth dibagi menjadi empatbelas macam. Kita harus menelitinya dan mencamkannya di dalam hati.(1) Mengulang-ngulang nama Tuhan dan merasakan kehadiran Parbrahm (Tuhan Yang Mahaesa)
(2) Orang harus melepaskan keakuan dan memuji Tuhan dan mengasihi Dia
(3) Jangan melukai perasaan orang lain
(4) Jangan bersikap kasar melainkan gunakan budi bahasa yang manis
(5) Seganilah Tuhan
(6) Hiduplah sesuai dengan kehendakNya dan lepaskan semua yang lain
(7) Lepaskan keinginan dan kejahatan
(8) Lepaskanlah keakuan dan jangan mempergunjingkan kejelekan orang lain
(9) Berbuatlah baik kepada orang yang jahat sekalipun. Jangan membalas dendam. Bersikaplah rendah hati dan mawas diri
(10) Tinggalkan hawa nafsu, dendam, ketamakan, keterikatan dan pikiran jahat serta baktikan dirimu dengan rendah hati. Jangan menginginkan istri dan harta benda orang lain. Jangan memikirkan tentang hal-hal yang buruk atau memfitnah orang lain dan hiduplah dengan tenang
(11) Amalkan kebenaran, belas kasihan dan pengampunan
(12) Hilangkan keraguan, carilah Tuhan, kenalilah dirimu sendiri,anggaplah Tuhan sebagai mahaada dan mahatembus dan layanilah para suci
(13) Jadilah duli kaki semua orang, anggaplah semua sebagai teman, lihatlah Tuhan dalam diri setiap orang dan jangan menyakiti mahluk lain
(14) Akuilah maut sebagai suatu kenyataan dan tinggalkan keinginan akan masa mendatang. 

Kebaktian September 15, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Dalam diri setiap umat manusia, sifat untuk membaktikan diri merupakan naluri. Semua orang mempunyai kecenderungan alamiah untuk hidup bermasyarakat atau menikmati kesenangan dan kebahagian dengan orang lain, karena secara kodrati, manusai adalah mahluk social dan ia tidak merasa puas kecuali ia dapat menjadi satiu dengan obyek kasihnya. Sebelum itu tercapai, ia akan tetap tidak tenang dan pikiranya mengembara. Di dunia ini orang melakukan bermacam-macam kebaktian, sementara orang berbakti untuk mengumpulkan harta, yang lain senang untuk membaktikan diri kepada keluarga, yang lain lagi ingin dikagumi oleh masyarakat dan berusaha untuk menuntut ilmu dan menjadi seniman. Para pemuja harta, siang malam bekerja tak henti-hentinya dan bila mereka agak berhasil, ia akan mendorongya untuk mengumpulkan lebih banyak harta lagi. Bila kita dapat menabung uang seribu rupiah, kita kemudian tentu ingin menabung ratusan ribu rupiah lagi, sehingga kekeranjingan untuk mengumpulkan uang itu akan sepenuhnya menguasai diri kita. Karena keserakahannya, orang yang tamak tidak dapat membelanjakan uangnya secara bebas dan juga tidak dapat melepaskannya. Karena itu, ia terbakar oleh api ketamakannya sendiri. Bila seseorang membaktikan diri kepada harta, ia selalu takut kepada pencuri dan selalu memikirkan apakah ia harus menyimpan uang di bank atau di lemari besi. Kecemasan itu menjadi bagian dari kehidupannya. Ia juga takut bahwa hartanya akan di rampas oleh para penguasa, sehingga semua ketenangan pikiran akan dihancurkan oleh kecemasan yang selalu menggoda. Orang yang tamak itu sangat egois, karena ia tak dapat memanfaatkan hartanya untuk dirinya sendiri dan tidak bersedia untuk menyumbangkannya kepada fakir miskin atau orang lain. Jadi, jelaslah sudah bahwa kita tidak patut membaktikan diri kepada harta. Kita tidak dilahirkan untuk mengumpulkan harta, karena harta hanya ibarat bayangan yang dapat memanjang dan memendek setiap saat, dan bila harta habis, itu akan menyebabkan goncangan mental. Sebenarnya, harta dimaksudkan untuk melayani manusia dan manusia tidak dilahirkan untuk menjadi budaknya. Sanak kita, keluarga kita dan orang-orang di sekeliling kita, semuanya menjadi mangsa maut. Tiada seorangpun yang bebas dari maut, dan setiap orang menempuh jalanya masing-masing. Bila mereka mengalami maut dan perpisahan, mengapa kita harus mengingakatkan diri kepada mereka? Mereka semua mempunyai perangai yang berbeda-beda sehingga tentu saja pendapatnya juga berbeda. Karena itu, membaktikan diri kepada mereka tidak akan bersifat langgeng atau tetap sama. Orang yang asik membaktikan diri kepada keluarga, sering kali menimbulkan permusuhan dengan orang lain. Orang-orang yang membaktikan diri kepada negara juga bertengkar satu sama lain atau dengan negara lain. Api peperangan dan permusuhan di dunia ini semuanya disebabkan oleh sifat senang bertengkar dari orang-orang seperti itu. Demikian juga, orang yang membanggakan pencapain intelektualnya biasanya senang berdebat dan bersliat lidah, hal mana semakin menjauhkan mereka dari kebenaran. Orang seperti itu selalu ingin menyerang orang lain dari segi ilmiah. Kesombongan karena mngetauhui banyak hal menjadikan mereka besar kepala dan itu memabukkan, sehingga mereka melupakan prinsip yang seharusnya di junjung tinggi. Saudara kemudian bermusuhan dengan saudara, dan dengan pertolongan sains, teknologi dan ilmu, berbagai senjata pemusnah diciptakan. Ilmu pengetahuan seperti itu terus berkembang dan merupakan penyebab dari pertikaian dan penderitaan. Semuanya itu, harta, keluarga, kepandaian dan sebagainya dapat mendatangkan manfaat dan kebahagian bila dipergunakan secara tepat; tetapi karena hal itu tidak mungkin,maka kita tidak patut membaktikan diri kepadanya. Semuanya itu tidak kekal dan tidak sempurna. Diantara semua corak pemujaan, yang paling luhur adalah pemujaan yang dipersemabahkan kepada Tuhan (Sat Purusha) yang Mahaesa, yang Tak Berubah dan Tak Termusnahkan. Ia adalah sang Maha Pencipta, dan kita semua adalah anak-anaknNya. Dengan mengasihi Tuhan, kita juga dapat mengasihi semua ciptaanNYa, karena kita semua merupakan sudara-saudara Tuhan dan Tuhan adalah Bapa kita semua. Dari kasih seperti itu terpancarlah satu persaudaraan antar umat manusia dan satu Ketuhanan Ynag Mahaesa. Anda tidak dapat melihat wajah anda di atas permukaan kaca biasa, tetapi bila kaca itu secar kimiawi dibuat menjadi cermin, anda dapat melihat wajah anda di dalamnya. Dengan cara yang sama, bila hati yang murni diisi kasih dan kebaktian, maka hati itu dapat melihat bayangan Tuhan di dalam dirinya. Kita harus membaktikan diri kepada sesuatu yang mulia, indah dan sempurna, sesuatu yang mempunyai daya tarik magnetis yang kuat, yang dapat menarik pikiran orang lain kepadanya dan yang dapat mengisi pikiran dengan kebahagiaan dan ketentraman yang khas.

Kepuasan August 27, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Hanya orang yang puas sajalah yang dapat melayani orang lain dengan tekun. Ia mencamkan kebenaran, tidak mempunyai niat jahat, ia selalu melakukan perbuatan yang baik sehingga akan memperoleh pahala. Ia sangat sabar. Walaupun memiliki kehormatan, martabat dan wibawa, ia bersedia untuk mengampuni orang lain. I senang bila melihat orang lain memperoleh kemajuan dan kemuliaan dan ia beritikad baik. Walaupun dihormati dan disanjung-sanjung, ia mengasihi orang lain dan bersikap ramah tamah. Walaupun pandai dan bijaksana, ia menghormati para cendikiawan dan berusaha untuk menyerap sifat-sifat baik mereka sebagai tugas semata-mata. Ia rupawan, namun tidak mengumbar kesenangan inderawi. Ia senantiasa sabar, sederhana dan cermat. Orang seperti itu tidak saja puas, melainkan memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Ia merasa puas dengan istrinya dan menganggap orang yang lebih tua daripadanya sebagai ibu, yang lebih muda sebagai saudara atau anak. Ia hidup dari nafkah sendiri. Ia menikmati hidangan yang sederhana sebagai santapan yang mewah dan meneguk air seolah itu Amrita. Ia tidak iri hati bila melihat hidup orang lain makmur. 

Bila seseorang itu miskin dan perbuatannya baik, dan Tuhan mengaruniainya dengan kepuasan, maka ia benar-benar kaya. Orang yang kaya namun tidak puas adalah seorang pengemis dan orang yang paling miskin, Karen akelaparannya tidak akan terpuaskan walaupun ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, karena tanpa kepuasan, tidak ada yang dapat di kenyangkan. Hal ini penting sekali, agar sambil berusaha, kita tidak menyalahkan atau lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, atau agar kita lambat laun tidak merasa putus asa bila hasilnya jauh dari yang kita harapkan atau sama sekali tidak ada, atau agar kita tidak menghentikan usaha kita dan menyerah kalah. Kita harus merasa puas dengan hasil perbuatan baik kita. Kita harus menunaikan tugas dengan penuh kesabaran. 

Kepuasan August 26, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Hanya orang yang puas sajalah yang dapat melayani orang lain dengan tekun. Ia mencamkan kebenaran, tidak mempunyai niat jahat, ia selalu melakukan perbuatan yang baik sehingga akan memperoleh pahala. Ia sangat sabar. Walaupun memiliki kehormatan, martabat dan wibawa, ia bersedia untuk mengampuni orang lain. I senang bila melihat orang lain memperoleh kemajuan dan kemuliaan dan ia beritikad baik. Walaupun dihormati dan disanjung-sanjung, ia mengasihi orang lain dan bersikap ramah tamah. Walaupun pandai dan bijaksana, ia menghormati para cendikiawan dan berusaha untuk menyerap sifat-sifat baik mereka sebagai tugas semata-mata. Ia rupawan, namun tidak mengumbar kesenangan inderawi. Ia senantiasa sabar, sederhana dan cermat. Orang seperti itu tidak saja puas, melainkan memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Ia merasa puas dengan istrinya dan menganggap orang yang lebih tua daripadanya sebagai ibu, yang lebih muda sebagai saudara atau anak. Ia hidup dari nafkah sendiri. Ia menikmati hidangan yang sederhana sebagai santapan yang mewah dan meneguk air seolah itu Amrita. Ia tidak iri hati bila melihat hidup orang lain makmur. 

Bila seseorang itu miskin dan perbuatannya baik, dan Tuhan mengaruniainya dengan kepuasan, maka ia benar-benar kaya. Orang yang kaya namun tidak puas adalah seorang pengemis dan orang yang paling miskin, Karen akelaparannya tidak akan terpuaskan walaupun ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, karena tanpa kepuasan, tidak ada yang dapat di kenyangkan. Hal ini penting sekali, agar sambil berusaha, kita tidak menyalahkan atau lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, atau agar kita lambat laun tidak merasa putus asa bila hasilnya jauh dari yang kita harapkan atau sama sekali tidak ada, atau agar kita tidak menghentikan usaha kita dan menyerah kalah. Kita harus merasa puas dengan hasil perbuatan baik kita. Kita harus menunaikan tugas dengan penuh kesabaran. 

Kerendahan Hati August 25, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Agar layak menerima curahan karunia Tuhan, kita harus mengosongkan hati dari kesombongan, karena sebelum wadahnya kosong, ia tidak dapat menampung apa-apa. Bila kita rendah hati, Kal dan Maya tidak dapat mempengaruhi kita. Semua orang Suci memiliki sifat itu dan menyandangnya sebagai perhiasan. Apakah kesombongan palsu atau ketakaburan itu? Menyombongkan salah satu kebaikan yang bukan milik kita, atau yang kita miliki sebagai pemberian dari orang lain,itu adalah kesombongan palsu. Kita tidak patut dihormati atau dimuliakan karena kita dilahirkan dalam keluarga yang terhormat atau Karena nenek moyang kita berjiwa sosial. 
Ada orang yang membanggakan pengetahuan dan bakatnya. Ia tidak patut merasa sombong. Itu adalah berkat guru yang mengajar dia dan kepandaian yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Apakah yang patut disombongkan oleh manusia di dunia ini? Orang menyombongkan harta dan benda. Itu bersifat sementara seperti bayangan yang berpindah-pindah  tempat. Orang membanggakan usia mudanya yang dapat hilang oleh penyakit dan bertambahnya usia.
 

Dari pembahasan di atas jelaslah sudah bahwa kita tidak patut menyombongkan kesenangan duniawi. Mengingat tentang kemahamurahan Tuhan yang tak terhingga dan tumpukan dosa dan kesalahan kita, akan menjadikan kita pengemis-pengemis di pintu Tuhan. Karena itu kita harus menelaah apa saja yang telah Ia karuniakan kepada kita dan apa yang kita perbuat denganya. Selama kita percaya bahwa segala sesuatu yang kita miliki, yang baik maupun buruk, tidak kita peroleh sendiri melainkan datang dari Dia, maka tidak ada yang dapat kita sombongkan. Karunia apa saja yang tidak kita terima dari Tuhan? Setelah menerimanya, apakah yang kita lakukan sebagai ungkapan rasa terimakasih kita dan apakah kita menghargainya? Bila jalan pemikiran seperti itu masih dapat menjadikan sombong, maka obatnya yang mujarab adalah memikirkan tentang semua kesalahan dan dosa kita. Egoisme atau kesombongan tidak disukai oleh Tuhan. Ia mencurahkan karuniaNya kepada orang-orang yang pikiranya penuh dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan. 

Kerendahan hati bukanlah suatu kelemahan, itu merupakan kekuatan yang sedemikan besarnya sehingga  semua kekuatan dunia ini pasti akan tunduk kepadanya. Manusia dapat menaklukan dirinya sendiri dengan kerendahan hati. Tak seorangpun dapat mengalahkan orang yang tidak sombong; karena di balik kerendahan hatinya, kuasa gaib Tuhan bekerja. Kerendahan hati merupakan perhiasan yang disandang oleh jiwa-jiwa mulia. 

Kejujuran August 15, 2006

Posted by pengemistuhan in Sikap & Moral.
add a comment

Apa itu Kejujuran? marilah kita sekarang membahas apakah ucapan yang jujur itu, yaitu kata-kata yang diucapkan oleh orang yang jujur. Menceritakan sesuatu tepat seperti yang dilihat atau didengar, itu disebut sebagai jujur. Selain kata-kata yang diucapkan harus jujur, tingkah laku juga harus jujur. Kejujuran harus kita junjung tinggi dan tindak tanduk kita harus berlandaskan kejujuran. Dengan demikian segenap jiwa, pikiran dan tindak tanduk kita akan menjadi jujur.

Dalam mengungkapkan kebenaran, kita tidak boleh mengabaikan rasa belas kasihan. Sesungguhnya, kejujuran tidak melukai perasaan orang lain. Apapun yang diucapkan, itu harus datang dari hati dan sama sekali tidak boleh menyakiti perasaan orang lain. Kejujuran dapat berdiri sendiri namun tidak demikian dengan halnya dengan ketidak jujuran. Orang yang jujur bersifat mantap, sabar dan berpendirian teguh. Orang yang tidak jujur tidak dapat berjalan dengan tegap dan ia tidak mantap. Orang yang jujur tak mengenal rasa takut dan tidak pernah bimbang atau ragu, sebaliknya orang yang tidak jujur selalu dibayangi ketakutan dan tidak mau bertemu pandang dengan orang lain. Orang yang jujur bersifat gagah berani, tetapi orang yang tidak jujur bersifat pengecut dan malas. Karena tidak mengenal takut, orang yang jujur bebas dari kecemasan, sehingga keterikatan berubah menjadi pelepasan. Orang yang jujur menjauhkan diri dari rayuan, bujukan, tipuan dan tidak menutup-nutupi sesuatu.

Dari keterangan di atas, jelaslah sudah bahwa orang yang jujur dapat berhasil dibidang kerohanian. Karena kebenaran berurat akar di dalam dirinya, maka ucapanya juga benar. Ia sendiri menelusuri jalan menuju Tuhan dan juga membimbing orang-orang lain. Orang yang jujur, puas dan mengucapkan kata-kata yang benar, akan menjadi kesayangan Tuhan. Ia tidak pernah merasakan kepedihan hati karena terpisah dari Dia. Tak ada yang ditakuti oleh kebenaran. Kebenaran tidak mempan terhadap kutukan dan Kal juga tidak dapat mencelakakannya. Bila bakta sejati bertemu dengan kebenaran (Tuhan), maka ia akan manjadi satu dengaNya.

Tujuan Seorang Pencari Kebenaran July 17, 2006

Posted by pengemistuhan in Kebenaran Sejati.
add a comment

Apakah Tuhan itu? Apakah Dia sungguh-sungguh ada? Kekuatan apakah yang menghidupkan alam semesta dan menjalankannya sesuai dengan rencana? Apakah kekuatan itu hidup atau mati? Bila ia mati, bagaimana matahari, bulan dan bintang dapat berputar sesuai dengan hukumnya? Bagaimanakah hubungan kita dengan kekuatan itu? Darimanakah alam semesta ini berasal, kapan ia mewujudkan diri dan bagaimanan itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu dipunyai olesh setiap orang. Berjilid-jilid buku telah di tulis tentang hal itu. Banyak orang masih bertanya Tanya tentang hal itu, tetapi pertanyaan itu tetap tidak terjawab.

Pikiran manusia mampu melambungkan daya khayalnya setinggi langit, namun ia tidak dapat menanggalkan ke ragu-raguannya. Persoalan tentang Tuhan tidak dapat dipahaminya dan manusia tetap tersesat dalam hutan belantara alam inteleknya.

Ada orang theis dan atheis. Menurut para atheis, anggapan adanya Tuhan hanya merupakan rekaan dari para penakut. Itu hanya sekedar mereka jadikan sebagai alasan untuk menyembunyikan ketakutannya, dan sebagai tempat berlindung. Karena Tuhan tidak dapat dilihat dengan teleskop maupun mikroskop, para atheis mengatakan bahwa Ia mustahil ada. Yang tidak percaya maupun yang percaya bahwa Tuhan itu ada karena mereka pernah membaca atau mendengarnya dari orang lain, keduanya tidak bahagia.

Seandainya seseorang berada dalam rumah yang terbakar, yang pertama-tama ia pikirkan adalah bagaimana cara untuk keluar dari rumah itu secepat mungkin sebelum ia menanyakan siapa yang membakar rumah itu dan kapan itu dibakar. Jawaban atas pertanyaan itu dapat di peroleh setelah ia berhasil meloloskan diri dari rumah yang terbakar itu. Begitu juga, kita akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu setelah kita mencapai tujuan kita. Satu-satunya yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana cara mengakhiri belenggu dari keterikatan itu.

Perbuatan apapun yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang telah dikirim ke dunia pralaya (kiamat) ini,hasilnya membentuk nasibnya yang disuratkan oleh Tuhan dengan huruf-huruf yang tak terhapuskan. Sesuai dengan nasib itu, mereka dikirim ke alam-alam yang rendah atau luhur. Itu telah menjadi takdir mereka sebagai hasil perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan yang lampau.

Kita tahu bahwa tak terhitung banyaknya jiwa yang menghuni Sat Lokhka, alam roh murni, bebas dari kiamat dan juga di alam-alam lebih rendah yang mengalami kiamat. Karma atau perbuatan lalu manakah yang menyebabkan jiwa-jiwa itu di tempatkan di salah satu alam? Bagaimana alam-alam itu diciptakan? Kapan mereka diciptakan? Jawaban atas semua pertanyaan itu tidak terjangkau oleh intelek kita dan tidak semua orang dapat menemukannya.

Untuk memperoleh kemajuan duniawi, kita wajib mentaati peraturan yang berlaku di masyarakat dan saling bahu membahu sehingga kehidupan bermasyarakat kita tidak goyah. Tata krama kehidupan bermasyarakat itu mencakup peraturan yang menyangkut tubuh, keluarga, kehidupan social, bangsa dan politik. Demikian juga, jalan untuk memperoleh kemajuan rohani dan penghayatan akan Tuhan juga mempunyai hukun-hukum tertentu, dan itu mencangkup pembebasan diri secara total.

Cita-cita seorang pencari kebenaran haruslah luhur. Selama tidak ada cita-cita atau tujuan yang pasti, tidak ada gunanya mengharapkan hasilnya. Bila cita-cita atau tujuannya sudah pasti, maka setiap usaha akan  membawanya lebih dekat kepada tujuannya. Keadaan manusia pada umumnya adalah seperti orang yang diombang-ambingkan oleh arus. Kita mengapung di sungai adat istiadat dunia. Kita mengikuti tradisi yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Kita menyia-nyiakan waktu dan ketakhayulan yang berkenaan dengan tubuh. Kita tidak pernah memikirkan tentang kebutuhan lain kecuali kebutuhan tubuh. Kita tidak memikirkan tentang jiwa atau keluh kesahnya. Penting bagi kita untuk meninggalkan kepercayaan yang keliru. Percayailah hal-hal yang benar. Patuhilah pedoman yang benar. Pahamilah kenyataan. Bila anda tidak dapat memahaminya, selidikilah hal itu, sehingga anda dapat mengetahui dengan jelas tempat yang harus anda capai, sehingga tidak ada rintangan yang menghalangi untuk menempuh jalan yang benar. Barang siapa mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang lain tanpa mempertimbangkannya, ia akan terlibat dalam ketahayulan. Kemajuannya akan terhenti dan ia tidak akan memperoleh harta rohani. Oleh karena itu untuk mencapai sukses perlu sekali untuk mengingat tujuannya. Tanyakan kepada diri sendiri apa yang anda inginkan. Cita-cita apakah yang anda punyai dalam hidup? Kebanyakan orang tidak mempunyai cita-cita, dan meskipun anda bertemu dengan orang yang mempunyai cita-cita, ia akan menganggap dunia sebagai tujuan akhirnya. Hanya sedikit saja pencari kebenaran yang ada. Amatilah diri anda sendiri. Ingin menjadi apakah anda? Anda memohon harta rohani, tetapi hati anda menginginkan sesuatu yang lain. Akal budi mengatakan bahwa kehidupan rohani itu baik, tetapi sebaliknya pikiran tidak menyenangi kecuali tubuh dan kesenangan jasmani. Bila demikian halnya, bagaimana orang yang berpura-pura menjalani kehidupan rohani itu dapat memperolh sukses? Pertama-tama, anda harus mempunyai cita-cita yang jelas dan kemudian hasrat yang besar untuk mencapai cita-cita itu. Hanya dengan cara demikian maka orang dapat mengharapkan sukses, tetapi untuk memperolehnya anda harus mengurangi kecintaan akan harta, wanita dan dunia.

Dalam bahasa sansekerta, “Kerohanian” berarti Pencapain terluhur. Karena itu orang harus dapat membedakan antara pencapain terluhur dan perolehan biasa. Ia harus menempuh jalan untuk mendapatkan manfaat yang sejati, murni dan paling luhur. Ia harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak perlu dan harus mencamkan kebenaran.

Seperti bunga teratai tetap mengapung di atas air sedangkan akarnya berada di dalam air, dan seperti  itik walaupun ia  sering berkecimpung di dalam air dapat terbang dengan sayap yang kering. Manusia mempunyai tubuh jasmani, Ia juga mempunyai pikrian, akal budi dan jiwa. Dengan tubuh ia mengumpulkan harta dan semua kesenangan tubuh. Tubuh di pelihara oleh tubuh, dan pikiran di peilhara dengan pikiran. Tetapi jiwa adalah yang paling berharga dari semua itu. Seorang Satguralah yang dapat mengaruniai pengetahuan tentang jiwa kepada kita.

Mengingat Tuhan dan memuji NamaNya akan memberikan bernacam-macam manfaat, begitulah kata para suci. Semua keinginan, kebodohan dan kekhawatiran akan musnaf dan lingkaran hidup dan mati akan berakhir. Semua niat baik akan terpenuhi. Hati akan dipenuhi dengan kebahagian, kenikmatan dan kesukacitaan. Bunga padama akan merekah dan keakuan akan menghilang. Ketakutan terhadap maut akan terkalahkan dan orang tidak akan masuk neraka. Ia dapat menyebrangui dunia fenomena dengan aman. Tuhan akan terlihat dimana-mana dan dalam segala sesuatu.

Bunga Rampai Rohani July 15, 2006

Posted by pengemistuhan in Ceramah Rohani.
add a comment

Amal perbuatan seberat satu ons adalah lebih baik daripada teori seberat satu ton. Apakah gunanya untuk mengetahui prinsipnya bila itu tidak di amalkan? Seorang terpelajar yang tidak mengamalkan pengetahuannya, tidak ada bedanya dengan hewan beban yang mengankut buku-buku di atas punggungnya. Mempraktekkan sesuatu adalah lebih baik daripada sekedar mengetahui. Teladan adalah lebih baik daripada sekedar ajaran. Rahwana, Raja Alengka, bukan saja terpelajar, melainkan juga seorang pengulas kitab suci Weda yang terbaik. Namun perbuatannya tidak sesuai dengan pengetahuan yang luas itu, karena ia menurunkan martabat dirinya dengan melarikan istri orang lain sehingga harus menanggung kehancuran seluruh bangsanya.

Hati yang murni adalah paling penting untuk memperoleh kemajuan rohani. Anda tidak dapat mengharapkan seorang Raja untuk masuk ke dalam ruangan yang kotor. Seekor anjing sekalipun  tidak mau duduk di tempat yang kotor. Jadi, bagaimana anda dapat mengharapkan Tuhan untuk masuk ke dalam hati yang penuh nafsu berahi, kemarahan, ketamakan, keterikatan dan kesombongan?

Tubuh kita adalah Rumah Tuhan yang hidup. Ia tidak boleh di nodai dengan jalan makan daging, minuman beralkohol dsb. Selain itu, ketidak jujuran, nafsu berahi, kemarahan, ketamakan, kebencian, kesombongan, kesiasiaan, egoisme dan keterikatan duniwai tidak boleh menguasainya. Mereka harus dibersihkan agar tubuh itu layak menjadi tempat bersemayam Tuhan.

Jangan menyakiti hati orang lain. Itu adalah dosa yang Tuhan sendiri tidak akan mengampuniNya dan akan mematikan sama sekali kehidupan Rohani. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Kita harus bersikap rendah hati dan selalu berbicara dengan ramah tamah.

 Sheikh Farid, seorang Mistik Islam yang Agung berkata:

            Farid! Jika Engkau rindu untuk melihat Sang Kekasih  Jangan menyakiti hati orang lain.
            Jika mereka memukulmu, jangan membalas memukul
           Melainkan ciumlah kaki mereka, dan berjalanlah Pulang.

Bila anda ingin memasuki Jalan Para Satguru, bersedialah untuk menyerahkan tubuh, pikiran dan harta benda anda. Hentikanlah semua keinginan anda. Lepaskan keterikatan anda dan bersedialah untuk menanggung celaan dan ejekan. Bila anda tidak dapat mencapai cita-cita itu, jangan berharap untuk berhasil. Ingat! Anda tidak dapat dan tidak akan memperoleh sesuatupun di dunia ini tanpa membayar harga sepenuhnya. Hanya orang-orang yang bodoh saja yang berusaha untuk memperoleh sesuatu secara Cuma-Cuma. Bahkan orang yang mengira bahwa ia telah memperoleh sesuatu secara Cuma-Cuma, ia sebenarnya telah membuat hutang yang baru. Selama ia masih mempunyai hutang di atas muka bumi ini, meskipun hanya sepeser, maka ia harus datang kembali  untuk melunasinya. Bahkan sebutir beras dari ladang tetangga yang secara tidak sengaja masuk ke dalam lumbung anda, itu juga harus diperhitungkan. Anda pasti harus membayar untuk semua yang telah anda peroleh. Hukum itu tidak dapat di ganggu gugat dan tidak dapat di abaikan. Pembayaran tetap harus di lakukan, apakah itu secara sengaja atau kelak di kemudian hari

Tidak ada hasil tanpa pengurbanan. Hasil dari kesenangan adalah kesakitan. Emas harus kita gali dari sebuah tambang dan untuk memperoleh mutiara, kita harus menyelam ke dasar laut. Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan tanpa mengalami kesakitan. Pengurbanan apakah yang tidak di berikan oleh seseorang guna memperoleh benda-benda yang ia senangi? Jadi, bagaimana anda dapat berharap untuk memperoleh penghayatan akan Tuhan tanpa pengurbanan yang sesuai? Anda harus bekerja keras tanpa mengenal lelah. Anda harus makan sedikit, berbicara sedikit dan tidur sedikit. Anda harus benar-benar menjauhkan diri dari masyarakat dan pamor. Anda harus menjadikan pikiran rendah hati dan harus mengendalikan panca indera.

Pikiran yang tidak murni merupakan rintangan yang besar bagi kebangkitan rohani. Ia bekerja seperti racun. Waspadalah selalu dan alihkan segera pikiran anda dari hal-hal seperti itu. Jika anda menggaruk tempat yang gatal, maka akhirnya ia akan menjadi bisul yang membahayakan.

Kita harus membiasakan diri untuk “berpikir” – berpikir benar. Hanya sedikit sekali orang yang  “berpikir”. Mengapa orang marah? Karena mereka tidak berpikir. Mengapa seorang ibu menangis saat anaknya meninggal dunia? Mengapa orang bunuh diri bila kehilangan harta benda atau kekayaan? Karena mereka tidak berpikir. “Vichar” (berpikir benar) adalah sama dengan sembilanpuluh persen “Abyhas” (latihan rohani). Berpikir benar merupakan suatu karunia. Dengan sedikit latihan, itu akan mudah diperoleh. Sebagian besar dari perbuatan kita, itu kita lakukan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Pikirkanlah selalu dengan tenang. Jiak anda tahu betapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh kemarahan pada hati dan jantung anda, maka anda tidak akan pernah marah. Tanyakan kepada seorang dokter,maka ia akan menerangkan  bagaimana kemarahan meracuni darah anda.

Apakah kecemasan pernah membantu seseorang membantu memecahkan suatu persoalan? Kecemasan timbul karena pikiran kalut. Biasakanlah diri untuk berpikir benar dan jangan menanggapi semua kesulitan dan kesusahan. Bahkan Iblis sendiri tidak akan berdaya selama orang dapat tertawa. Apakah tertawa memerlukan biaya? Tertawa adalah sama mudahnya seperti bergelisah dan bercemas diri. Hanya sedikit usaha yang diperlukan pada permulaannya. Setelah beberapa waktu, itu akan menjadi suatu kebiasaan. Kecemasan anda menunjukkan bahwa anda tidak percaya akan kebaikan Tuhan maupun Tuhan sendiri. Biarkanlah Dia untuk menyelesaikan segala sesuatu menurut caraNya sendiri dan bukan menurut cara yang kita inginkan. Berusaahalah untuk menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang Ia lakukan; dengan demikian maka anda tidak akan merasa sedih.

Luka pada tubuh ynag disebabkan oleh senjata tajam akan sembuh setelah beberapa waktu, namun tidak demikain halnya dengan luka yang dibuat oleh lidah pada hati seseorang. Berhati-hatilah agar tidak melukai perasaan mahluk hidup manapun. 

Jangan memfitnah orang lain. Itu dosa besar. Melakukan dosa-dosa yang lain mungkin akan memberikan kita kesenangan atau kenikmatan, tetapi coba renungkan, apa senangnya untuk “memfitnah orang”.
Sheikh Sa’adi, resi yang terkenal dari Shiraz berkata, “Bila saya harus memfitnah orang lain, maka saya akan memfitnah ibu saya sendiri. Karena bila jasa perbuatan baik saya harus berpindah ke tangan orang lain, itu akan saya berikan kepada ibu saya sendiri. “Maharaj Ji seringkali mengatakan bahwa semua perbuatan baik seorang pemfitnah akan menjadi keuntungan bagi orang yang difitnah. Si pemfitnah akan membersihkan dosa kita tanpa memungut

Jalan kasih sejati tak pernah mulus, “Kata Shakspeare, Semakin tulus kasihnya, semakin sulit perjalannanya. Begitujuga halnya dengan mengasihi Tuhan. Semakin anda mengasihi Dia, semakin banyak kesulitan dan percobaan yang akan Ia berikan kepada anda . Untuk memurnikan emas, ia harus dimasukkan ke dalam api. Paltu Sahib berkata, “Kasih bukan suatu hal yang mudah. Apakah engkau bersedia memenggal kepalamu sendiri? Bila tidak, jangan mengangan-angankan tentang kasih. Ia bukan sepotong kue yang dapat anda telan dengan mudah. Seorang pengasih tetap tergantung di atas kayu salib siang malam. Ia mengalami kematian selagi hidup dan ia melespaskan semua keinginan dari tubuh dan kehidupan. Tidak ada setets darahpun yang masig tertinggal di dalam dirinya. Ia tidak pernah menangis dan hatinya tidak pernah berkeluh kesah. Dengan meniggalkan semua kesombongan dan kehormatan, Ia sampai –sampai mengurangi tidur dan makanya. Alangkah bodohnya  mereka yang mengira bahwa menjadi seorang pengasih adalah seperti berpesta pora!

Betapa kita menyia-nyiakan hidup manusia yang berharga ini dengan mengejar-ngejar kenikmatan inderawi yang hanya akan membawa ekor kesusahan, penyakit, kesengsaraan dan kesakitan. Sebenarnya, kita seakan-akan tidak menyadari betapa besarnya nila dari pemberian yang berharga yang telah di karuniakan Tuhan yang Mahamurah kepada kita. Kita mendapatkan tubuh manusai setelah melewati jutaan kehidupan sebagai mahluk-mahluk yang rendah. Bahkan sebagai cacing, burung dan hewan, kita telah mempunyai ayah, ibu, anak-anak. Pada saat itu, kita juga mengalami kasih dan benci, nafsu berahi, kemarahan, kelaparan dan ketamakan. Kalau begitu dimanakah letak keunggulan manusia? Tujuan utama mengapa sang Pencipta memberi akal budi bahwa kita harus mengenal diri kita sendiri maupun Pencipta kita dalam hidup sekarang ini juga. Bila kita gagal untuk  melakukan hal itu, maka kita tidak akan ada bedanya dengan binatang. Jadi, mari kita memanfaatkan pemberian untuk dapat menghayati Tuhan ini.

Kejahatan cenderung untuk menarik kita ke bawah. Satu saja pikiran jahat akan menjatuhkan kita dari ketinggian surga atau Brahmanda ke alam neraka yang paling rendah. Seperti orang yang meluncur dari atas bukit salju, begitu pul apikiran tentang nafsu birahi akan menarik seorang bakta Tuhan ke bawah. Nafsu birahi dan kasih kepada Tuhan saling bertentangan. Mereka tidak dapat bersama-sama dalam sebuah hati. Dimana ada nafsu birahi, kasih terhadap Tuhan tidak akan ada, dan dimana kasih kepada Tuhan meresapi, nafsu birahi sama sekali akan menghilang.

Kesusahan, penyakit, penderitaan dan kesakitan adalah alat-alat pemurni yang ampuh. Mereka menjadikan kita lebih baik dan membawa kita lebih dekat  kepada Tuhan.
Bhatara Krisna berkata kepada Udho di dalam Bhagavad Gita “Aku memberikan tiga hadiah istimewa kepada para bakta yang paling aku sayangi”.
Itu adalah: (1) kemiskinan, (2) penyakit, dan (3) aib” memang benar apa yang dikatan oleh Tuhan Yesus Kristus, yaitu bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk masuk ke lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan surga.

Bhatara Krisna menanamkan kecintaan  akan tubuh, kesia-sian , kesombongan dan keterikatan kepada harta benda dan duniawi sebagai penghalang dalam perjalanan menuju Penghayatan akan Tuhan.

Setelah mencapai ParBrahm, orang akan sadar bahwa Tuhan adalah tak terhingga dan Abadi, bahwa Ia adalah merupakan kehidupan dan Cahaya dari segala sesuatu – semua adalah sama Dia dan segala sesuatu berasal dari Dia – dan bahwa Tuhan yang Mahakuasa, Sabda dan Jiwa mempunyai hakikat yang sama. Manusia memikirkan tentang segala sesuatau yang ada di dunia, namun ia jarang sekali memikirkan tentang dirinya sendiri. Apakah ia tahu berapa besar harta yang tersimpan di dlam tubuhnya, yang bahkan para malaikat di surga tidak pernah memimpikannya? Alangkah malan dan bodohnya ia! Berpalinglah ke dalam diri anda guna mencari Kebahagian, kedamaian dan kenikmatan. Tidak ada orang yang pernah menemukanya dari tanah, udara dan air.

Ubahlah kesakitan dan   kesulitan menjadi kesenangan. Yang menjadikan kita bersedih hati adalah keadaan lingkungan dan sikap kita sendiri dalam menanggapi segala sesuatu. Alangkah kejamnya untuk menyemblih hewan dan unggas guna mengisi perut kita. Bukankah kebanyakan dari penyakit yang menimpa kita disebabkan karena kita telah meracuni diri kita secara demikian? Kekuatan jiwa adalah tak terbatas dan tak terhingga. Bukankah ia merupakan tetesan dari Lautan yang tak terhingga dan tak terbatas itu – Tuhan Yang Maha Kuasa? Jadi, mengapa harus menjadi seorang pengecut dan menyerah kepada musuh yang begitu licik, yaitu pikiran?

Di dalam diri anda terdapat sebuah jendela yang membukak ke arah Tuhan. Membuka jendela itu adalah sama mudahnya seperti membuka salah satu jendela rumah anda. Ketuk, ketuk, ketuklah. Ia mendengar. Bial pintu belum di buka dari dalam, jangan meninggalkannya. Teruskan mengetuk, mengetuk, begitu kerasnya sehingga Ia terpaksa membukanya. Tuhan mengasihi orang yang rendah hati dan hina. Berhati-hatilah agar tidak menyakiti hati orang lain. Tuhan bersemayam disana. Bagi orang yang melukai hati orang lain, pintu surga akan tetap tertutup. Berbicalah selalu secara lemah lembut, penuh kasih saying tanpa meninjolkan diri sendiri. Semakin tinggi kedudukan anda, pikiran anda harus semakin lembut. Kata-kata yang manis  tidak  menelan biaya, melainkan dapat menaklukan dunia.