Pintu Tuhan
Para suci telah menyiggung ke dua belas bulan dalam setahun dengan tujuan untuk menciptakan kasih kepada Tuhan di dalam diri kita, mengisi hati kita dengan kebaktian kepadaNya. Masing-masing bulan melambangkan hidup manusia dengan tujuan luhurnya, jalan hidupnya yang agung, misterinya yang besar. Karena berpisah dari Tuhan, kita mengitari putaran lahir dan mati dan menderita sengsara dalam setiap kehidupan. Kita sekarang telah menjadi begitu letih, tertatih-tatih dan tak berdaya sehingga kita hanay dapat mengetuk di pintu Tuhan guna memohon pertolonganNya agar menyelamatkan kita dari siksaan kelahiran dan kematian.
Jiwa kita – yang mempunyai hakikat yang sama dengan Tuhan – telah jatuh ke dalam jerat maya dan agennya yang paling licik – yaitu pikiran dan menyadari bahwa ia sendiri tidak dapat meloloskan diri dari cengkramannya. Apapun karma yang telah di kumpulkan, itu harus dilunasi. Selama karma masih ada, tidak mungkin ada pembebasan dari kelahiran kembali ke dunia ini. Pintu gerbang benteng yang luas dengan 84 laksa sel (8.400.000) ini tetap tertutup rapat, kecuali bila Tuhan dalam kemahamurahan dan kasihNya mengasihani jiwa dan membuka gerbangnya agar ia bebas. Kita sendiri sama sekali tidak berdaya. Hidup dan mati kita adalah wewenangNya, dan Dia sajalah yang dapat mengampuni dan membawa kita pulang ke Rumah Sejati kita untuk bergabung dengan Dia.
Seandainya kita berwenang untuk bertemu denganNya, maka kita tidak perlu menangisi keterpisahan kita dari Tuhan, namun, begitu kita telah berpisah dari sumber kita, maka kita adalah seperti perahu tak berdayung di tengah samudera berbadai. Hanya melalui karuniaNya, kita dapat bertemu seorang nahkoda yang mengenal samudera itu, yang mengetahui semua angina dan pusarannya, batu karang dan pantainya, dan yang meiliki perahu yang kokoh dan kuat untuk menyelamatkan kita melewati kawasan yang luas itu. Nahkoda itu adalah Satguru yang meiliki perahu Nam. Begitu kita memasuki perahu itu, begitu kita menghubungkan kesadaran kita dengan kuasa Abadi itu, kita dapat menyebrangi lautan itu dengan aman dan mencapai seberang – tepi Ketuhanan. Kepada siapa Tuhan berkenan membebeskannya, Ia akan mengaruniakan kepadanya pergaulan dengan seorang Anak Tuhan.
Tanpa karunia ini, kita tetap sengsara dan nasib kita tidak lebih baik daripada seekor lembu yang mandul, karena hampir-hampir ia tidak mendapat perhatian dari majikannya. Sementara lembu yang menghasilkan susu memperoleh makanan dan minuman dan diperhatikan sepenuhnya, maka lembu yang mandul akan di abaiakan dan harus mencari makan sendiri. Selama tanaman memperolah air, ia akan tumbuh dan menghasilkan panen yang berlimpah. Namun bila tanpa air, ia akan melayu dan mati. Begitupula jiwa akan merana tanpa perhatianNya, belas kasihan dan perkenannNya.
Comments»
No comments yet — be the first.